Menulis sebagai Cermin Jiwa

Menulis sebagai Cermin Jiwa
Oleh: Telly D.*)
Setiap manusia membawa cermin di dalam dirinya. Ada cermin yang memantulkan wajah sehari-hari, ada cermin yang memantulkan luka, ada cermin yang memantulkan cahaya yang tak terlihat oleh mata. Menulis adalah salah satu cara menyingkap cermin itu. Saat pena menyentuh kertas, saat jari menari di papan ketik, kita sesungguhnya sedang menatap pantulan diri yang lebih jujur daripada apa pun yang bisa terlihat di kaca biasa.
Tulisan adalah pantulan jiwa. Kata-kata yang lahir bukan hanya susunan huruf, melainkan gema batin yang menyingkap siapa kita sebenarnya. Ada kalimat yang lahir dari syukur, ada yang dari luka, ada yang dari kerinduan. Semuanya adalah bayangan diri, lengkap dengan cahaya dan gelapnya. Karena itu, setiap tulisan sekecil apa pun adalah cermin yang menyimpan potret kita pada satu waktu tertentu.
Kadang kita terkejut membaca kembali catatan lama. Kita menemukan diri yang rapuh, pemikiran yang naif, doa yang penuh air mata. Kita tersenyum, malu, atau bahkan menangis. Tetapi di situlah kekuatan menulis: ia tidak pernah berbohong. Tulisan yang jujur adalah potret yang tak bisa dimanipulasi. Jika wajah bisa disembunyikan dengan senyum palsu, tulisan akan tetap membocorkan apa yang tersembunyi di balik dada.
Cermin tulisan berbeda dari cermin kaca. Cermin kaca hanya menampilkan rupa luar, sementara tulisan menampilkan lapisan batin. Itulah sebabnya menulis seringkali membuat orang merasa lebih ringan. Karena ketika menulis, kita sedang meletakkan sebagian beban batin ke luar diri, membiarkan kertas atau layar menanggungnya. Tulisan menjadi sahabat yang tak pernah menolak, cermin yang selalu jujur, sekaligus ruang doa yang tak menuntut kata-kata indah.
Menulis sebagai cermin jiwa berarti berani menatap diri apa adanya. Tidak semua orang sanggup menatap pantulan itu. Sebagian memilih berpaling, takut pada luka yang muncul kembali. Tetapi justru dengan menatap, kita belajar menerima. Kita belajar memaafkan. Kita belajar bahwa hidup tak hanya tentang menyembunyikan retakan, tetapi juga tentang berdamai dengan retakan itu.
Bayangkan seorang penyair yang menulis di tengah malam. Lampu redup, udara dingin, hanya suara pena yang bergerak di atas kertas. Setiap kata yang ia tuliskan bukan sekadar rangkaian indah, melainkan pantulan hatinya yang resah. Besok pagi, orang lain mungkin membaca puisinya dan menemukan keindahan. Tetapi sang penyair tahu: itu adalah potret dirinya sendiri, pada satu malam yang rapuh.
Menulis juga menjadi cermin yang memantulkan cahaya. Tidak semua tulisan lahir dari luka. Ada tulisan yang lahir dari cinta, dari kegembiraan, dari rasa syukur. Kata-kata seperti itu memantulkan bagian diri yang cerah. Ia bisa menjadi sinar bagi orang lain yang sedang gelap. Dan bukankah itu indah? Bahwa cermin diri kita bisa menjadi cermin bagi orang lain juga. Apa yang kita tulis bukan hanya pantulan, melainkan juga pantulan yang menyinari.
Tetapi menulis sebagai cermin jiwa bukan berarti menulis harus selalu dalam bentuk besar, panjang, atau berat. Satu kalimat sederhana pun bisa menjadi cermin. “Aku lelah hari ini, tetapi aku bersyukur.” Itu sudah cukup untuk memantulkan diri: keletihan sekaligus kesadaran akan syukur. Terkadang, cermin paling jujur justru tampak pada kata-kata paling sederhana.
Literasi, pada akhirnya, bukan hanya soal membaca buku orang lain, tetapi juga membaca buku diri sendiri. Setiap catatan, setiap refleksi, setiap baris doa yang tertulis adalah halaman dari kitab batin kita. Kitab itu mungkin tidak akan pernah diterbitkan, tidak akan pernah dibaca banyak orang. Tetapi ia tetap penting, sebab ia adalah catatan perjalanan jiwa yang unik dan tak tergantikan.
Manusia sering lupa bercermin ke dalam. Kita sibuk bercermin ke luar: apakah wajah tampak rapi, apakah penampilan diterima orang lain. Tetapi menulis mengingatkan kita pada cermin yang lebih dalam: apakah jiwa kita sudah damai, apakah pikiran kita sudah jernih, apakah hati kita masih peka. Dan dari sanalah lahir tulisan yang bukan hanya indah, tetapi juga menyembuhkan.
Ya Allah,
Yang Maha Mengetahui segala isi hati,
jadikanlah setiap tulisanku cermin yang jujur, agar aku berani menatap diriku sendiri.
Ya Al-Latif, Yang Maha Halus,
haluskan hatiku agar setiap kata tidak melukai, tetapi menyembuhkan.
Ya An-Nur, Yang Maha Cahaya,
pancarkan sinar-Mu dalam kalimatku, agar pantulan jiwaku juga menjadi cahaya bagi orang lain.
Biarlah setiap tulisan menjadi kaca bening,
yang memperlihatkan siapa aku tanpa topeng.
Biarlah setiap kalimat menjadi pantulan,
yang membuatku lebih berani berdamai dengan diriku sendiri.
Dan bila suatu hari aku tak sanggup lagi menulis,
biarlah tulisan-tulisan yang kutinggalkan
menjadi cermin sederhana
tempat orang lain bisa melihat bahwa aku pernah hidup,
pernah merasa,
pernah mencari cahaya.
Makassar, 2 Oktober 2025
______________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

October 5, 2025 at 7:26 am
Lyla3919
https://shorturl.fm/bkFI5