Janji untuk Memulai

Janji untuk Memulai
Oleh: Telly D.*)
Ada masa ketika kertas kosong menjadi momok. Ia bukan sekadar lembar putih tanpa isi, tetapi tembok tinggi yang membuat saya terdiam. Saya seorang murid berusia 62 tahun ketika itu, baru saja memberanikan diri belajar menulis pada seorang guru yang karyanya sudah saya baca, seorang dosen sastra dan penulis prolifik yang terkenal. Namun keberanian itu berhenti di satu titik: saya tidak sanggup memulai.
Setiap kali hendak menulis, ketakutan datang bertubi-tubi. Saya takut bahasa saya buruk, takut kalimat saya kaku, takut isi pikiran saya tak sebanding dengan pengalaman panjang sang guru. Lebih dari itu, saya malu membayangkan tulisan saya dibaca orang lain, lalu dianggap remeh. Maka lembaran kosong itu terus menunggu, sementara saya bersembunyi di balik alasan.
Hari itu saya membuka WhatsApp, ruang kecil di mana saya dan guru berjumpa. Bukan kelas dengan banyak murid, bukan forum yang bising, hanya dua orang, saya dan beliau. Percakapan sederhana, tetapi terasa tegang bagi saya, karena di sana, kejujuran saya diuji.
Guru bertanya, dengan kalimat singkat tapi tajam:
“Bagaimana, sudah ada tulisan Mbakyu hari ini?”
Jantung saya berdetak cepat. Saya menatap layar lama sekali, mencoba mencari alasan. Tapi akhirnya saya memilih jujur:
“Belum ada, Abah. Terus terang saya takut menulis. Saya takut tulisan saya jelek, takut dianggap remeh. Saya tidak tahu harus mulai dari mana.”
Mengirim pesan itu rasanya seperti menelanjangi diri. Malu, rapuh, sekaligus lega. Saya membayangkan beliau kecewa. Tapi balasannya justru berbeda dari yang saya kira.
“Ketakutan Mbakyu wajar,” tulisnya. “Hampir semua penulis melewati itu. Ada tiga wajah ketakutan dalam menulis: takut bahasa miskin, takut isi dangkal, dan takut pembaca menilai buruk. Tapi semua itu hanya bayangan. Tulisan yang tidak pernah dimulai, tidak pernah bisa dinilai.”
Saya membaca ulang kata-kata itu, seperti meneguk air jernih setelah lama kehausan. Lalu kalimat berikutnya muncul, singkat, tapi menghujam:
“Menulis itu tidak harus sempurna, tapi harus dimulai. Langkah pertama adalah kunci dari segalanya.”
Saya terdiam. Kata-kata itu seperti lampu yang dinyalakan dalam ruang gelap. Selama ini saya menunggu kesempurnaan, padahal justru keberanian memulai meski dengan goresan patah yang menjadi jalan satu-satunya.
Lalu datang kejutan yang membuat dada saya bergetar. Guru menambahkan:
“Usiamu 62 tahun bukan penghalang, justru kekuatan. Mbakyu menyimpan perjalanan panjang, penuh pengalaman. Itu modal yang lebih berharga dari teori mana pun. Tulisan Mbayu mungkin sederhana, tapi ia akan punya jiwa. Dan itu yang penting.”
Saya nyaris menitikkan air mata. Selama ini saya merasa terlambat, merasa bodoh memulai di usia senja. Tapi di mata guru, usia saya justru sumber kekuatan. Betapa sering saya melihat 60 sebagai beban, sementara beliau melihatnya sebagai gudang cerita.
Saya memejamkan mata, membiarkan kata-kata itu meresap. Kehidupan saya memang panjang: masa kecil yang sederhana, kerja keras, keluarga, luka, kehilangan, kebahagiaan. Semua itu tersimpan, tapi tak pernah saya beri bahasa. Kini saya tahu, justru di sanalah harta yang bisa saya tuliskan.
Percakapan itu sederhana, hanya deretan kalimat di WhatsApp. Tapi dampaknya besar. Saya tidak lagi melihat kertas kosong sebagai tembok, melainkan pintu yang menunggu saya ketuk. Saya tahu tulisan pertama saya akan canggung, mungkin buruk. Tapi kini saya paham, yang terpenting bukanlah hasil, melainkan keberanian untuk memulai.
Dan ada satu hal yang lebih mengejutkan dari semuanya. Guru saya menulis lagi:
“Saya pun belajar dari Mbakyu, Keberanian Mbakyu mencoba di usia 62 adalah pelajaran. Murid juga bisa mengajar gurunya.”
Saya tercekat. Saya kira, saya hanya murid yang kecil, pemula yang rapuh. Tetapi rupanya, keberanian sederhana saya bisa memberi arti bagi orang lain.
Sejak itu, saya tidak lagi menulis karena tugas. Saya menulis sebagai janji: janji untuk memulai, janji untuk tidak menunggu sempurna, janji untuk jujur pada diri sendiri. Menulis bukan lagi pencarian kesempurnaan, melainkan ruang pertemuan antara saya dan pengalaman saya, antara saya dan guru, antara saya dan kehidupan itu sendiri.
Kini setiap kali membuka WhatsApp, saya teringat percakapan itu. Setiap kali menatap layar kosong, saya mendengar kembali kalimat itu: “Menulis itu tidak harus sempurna, tapi harus dimulai.”
Dan dengan itu, saya tahu: perjalanan saya sudah dimulai.
Makassar, 2 Oktober 2025
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

October 5, 2025 at 7:27 am
Breanna878
https://shorturl.fm/qVUe6
October 2, 2025 at 12:26 pm
Eloise871
https://shorturl.fm/GQVQn