KURSI YANG TAK MAU DIDUDUKI

Pentigraf
KURSI YANG TAK MAU DIDUDUKI
Oleh: Telly D.
Setelah Kwik Kian Gie pensiun, ruang rapat utama kementerian diganti nama. Plakat baru dipasang, taplak meja diseterika ulang, dan satu kursi di ujung meja disediakan untuk menteri baru. Tapi setiap kali rapat dimulai, kursi lama tetap kosong. Tak ada yang tahan duduk lama di kursi kerja itu. Kursinya keras, sandarannya miring, dan kulitnya robek di ujung tapi bukan itu yang membuat orang gelisah.
Beberapa pejabat yang mencoba duduk di sana untuk rapat atau memberi pengarahan mendadak gugup, seperti pesakitan yang sedang diperiksa nurani. Tangan jadi kaku, suara mengecil, dan tatapan mulai mencari alasan untuk bangkit lebih cepat. Kursi itu tak berkata apa-apa, tapi diamnya seperti menuntut: “Sudahkah kamu bicara jujur hari ini?” Maka sejak itu, kursi itu dibiarkan kosong, terlalu banyak yang tak sanggup menanggung heningnya. Lain waktu, kursi hendak diganti, tapi kepala bagian hanya berkata, “Biarkan. Itu bukan kursi. Itu saksi.”
Hari-hari berlalu, rapat berjalan, dunia berubah. Tapi kursi itu tetap kosong, seperti titik koma yang menolak berubah jadi titik akhir. Dan tiap kali seorang staf baru bertanya kenapa tak dipakai, selalu dijawab dengan kalimat yang sama, turun temurun “Karena di kursi itu, duduk artinya harus sanggup berkata jujur meski sendirian.”
Makassar, Juli 2025

August 24, 2025 at 1:01 pm
Holden1851
https://shorturl.fm/iOXw3