Titip Saya dalam Doamu

Titip Saya dalam Doamu
Oleh: Telly D.
Hari ini seharusnya menjadi hari yang penuh kebahagiaan. Perjalanan saya ke Sulawesi Barat untuk menghadiri halal bihalal keluarga besar lembaga yang dulu saya pimpin BPMP Sulawesi Barat, dahulu LPMP Sulawesi Barat membuka kembali lembaran lama yang penuh kenangan. Saya datang dengan niat silaturahmi, menyambung kembali ikatan batin dengan orang-orang yang pernah berjalan bersama saya, membangun sesuatu dari nyaris tidak ada menjadi sebuah lembaga yang kini berdiri dengan wibawa.
Namun, hari ini ternyata tidak hanya tentang kebahagiaan. Ia juga tentang perenungan yang dalam, tentang luka yang tidak terlihat, dan tentang rasa yang mengguncang batin.
Di antara sekian banyak wajah yang saya temui, ada satu yang tidak saya jumpai: Sopu. Nama itu bukan sekadar nama. Ia adalah bagian dari sejarah panjang lembaga ini. Bersama Japari, dialah yang menemani saya sejak awal, ketika kantor belum memiliki apa-apa. Tidak ada listrik, tidak ada air, bahkan masih berupa hutan. Tetapi mereka tetap ada. Menemani saya, menjaga, merawat, bahkan rela meninggalkan keluarga hanya untuk memastikan bahwa kami tidak sendiri dalam merintis.
Hubungan kami bukan hubungan formal antara pimpinan dan bawahan. Ia lebih dalam dari itu. Saya memperlakukan mereka seperti saudara. Mereka mengurus, menjaga lembaga dan saya bahkan dalam sunyi yang tidak pernah diketahui orang lain. Saya masih ingat, ketika posisi saya belum pasti, ketika saya belum tentu menjadi kepala lembaga, saya selalu berkata kepada mereka: “Titipkan saya dalam doa Jika saya dipercaya memimpin, kita akan terus berjalan bersama.”

Ketika Saya Akan Berpisah Dengan Sopu. Foto: Dokumen Pribadi
Dan doa itu terkabul. Saya memimpin. Selama masa itu, kedua orang ini adalah orang yang paling saya hormati dalam lembaga. Saya tidak pernah melihat mereka dari status, tetapi dari pengorbanan. Bahkan ketika saya harus meninggalkan lembaga itu karena amanah baru di PPPPTK MATEMATIKA di Yogyakarta, saya pergi dengan berat hati. Saya tahu mereka bersedih. Dan sebisa mungkin saya mencoba membahagiakan mereka bahkan dengan memberangkatkan mereka untuk umrah sebagai bentuk terima kasih yang tak sebanding.
Hari ini, ketika saya kembali, saya hanya bisa memeluk Japari. Sopu tidak ada. Ada ruang kosong yang tidak bisa saya abaikan. Maka sebelum meninggalkan tempat itu, saya meminta diantar untuk menemuinya. Dan di situlah saya runtuh. dia menerimaku tidak di rumah, tidk di dalam ruangan hanya di pinggir jalan.
Saya tidak membawa kata-kata. Saya tidak membawa penjelasan. Saya hanya membawa perasaan yang tidak mampu saya kendalikan. Ketika saya memeluknya, saya hanya bisa meneteskan air mata dan merintih. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada pembelaan. Saya hanya mendengarkan. Dan justru di situlah ketakutan terbesar saya muncul.
Saya takut pada keluhan yang keluar dari hatinya. Saya takut jika rasa yang ia pendam berubah menjadi ratapan di atas sajadah. Saya takut jika doa orang yang pernah terzalimi naik tanpa penghalang kepada Allah. Saya benar-benar takut.
Dalam keyakinan kita, kita diajarkan bahwa doa orang yang terzalimi tidak memiliki hijab. Dan saya tidak mampu membayangkan jika perkara ini sampai menyentuh wilayah itu. Selama 35 tahun saya memimpin, saya selalu berusaha menghindari satu hal: menzalimi orang. Setegas apa pun saya dalam aturan, setinggi apa pun target kinerja, saya selalu berusaha menjaga satu hal kemanusiaan.
Karena manusia bukan hanya pikiran, tetapi juga perasaan.
Apa arti kepemimpinan jika meninggalkan luka? Apa arti keberhasilan jika dibangun di atas rasa yang terabaikan? Dalam ajaran Islam, menghargai orang bukan hanya soal memberi upah, tetapi juga memuliakan jasa, menjaga martabat, dan tidak melupakan pengorbanan. Rasulullah mengajarkan untuk menghargai bahkan orang yang memberikan kebaikan sekecil apa pun, apalagi mereka yang telah mengabdikan hidupnya tanpa pamrih. Beberapa tahun selama lembaga ini disiapkan kedua orang ini bekerja tanpa upah.
Di hadapan Sopu hari ini, saya merasa kecil. Saya merasa tidak lagi memiliki kuasa untuk melindungi, menghargai, atau memuliakan sebagaimana dulu saya lakukan. Perubahan telah terjadi. Dan tidak semua perubahan berjalan sesuai dengan harapan kita.
Maka yang bisa saya lakukan hanyalah mengembalikan kepada Allah. Memohon jalan keluar yang saya sendiri tidak mampu menjangkaunya. Saya menyerahkan kegelisahan ini kepada-Nya, karena hanya Dia yang mampu membolak-balikkan keadaan.
Ketika saya meninggalkannya, saya kembali memeluknya. Dan dengan suara yang hampir tidak terdengar, saya hanya berkata: “Titip saya dalam doamu… seperti dulu yang pernah kau lakukan. Mari kita tunggu bagaimana tangan Allah bekerja.”
Saya pergi dengan langkah yang berat. Hari ini mengajarkan saya kembali bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang membangun sistem, tetapi menjaga hati manusia. Dan mungkin, di hadapan Allah, yang paling bernilai bukan apa yang kita bangun, tetapi siapa yang tidak kita lukai.
Makassar, Maret 2026

Leave a Reply