SEPULUH MALAM TERAKHIR

Pentigraf
SEPULUH MALAM TERAKHIR
Oleh:Telly D.
Di sepuluh malam terakhir Ramadan, ia tidak sibuk menghitung kemungkinan malam yang disebut sebagai Lailatul Qadar. Ia tidak menumpuk target ibadah seperti seseorang yang mengejar hadiah rahasia dari langit. Ia datang saja iktikaf dengan langkah sederhana: beberapa rakaat yang mampu ia tegakkan, doa yang kadang terputus oleh lelah, dan dzikir yang mengalir pelan seperti air yang menemukan jalannya sendiri. Baginya, ibadah bukan perlombaan. Ia hanya ingin hadir jujur di hadapan Tuhan yang tahu segala isi dada.
Sementara di sekelilingnya orang-orang sibuk menebak-nebak: malam ke berapa langit benar-benar terbuka? Ada yang memperbanyak amal dengan gelisah, ada yang menghitung pahala seperti pedagang menghitung laba. Ia justru memilih tenang. Jika Allah mempertemukannya dengan Lailatul Qadar, ia bersyukur. Jika tidak, ia tetap percaya: satu sujud yang tulus lebih berat daripada seribu doa yang lahir dari ambisi. Ia hanya menjalani malam-malam itu seperti seorang hamba yang pulang ke rumahnya sendiri.
Ramadan pun berlalu. Orang-orang masih bertanya-tanya malam mana sebenarnya yang paling mulia itu. Ia hanya tersenyum kecil, karena diam-diam ia baru menyadari sesuatu: “Mungkin aku tidak pernah menemukan malam itu karena ternyata akulah yang sedang dicari oleh Tuhan.”
Makassar, Ramadan 2026

Leave a Reply