ANAK YANG MENGALAHKAN LAPAR

entigraf
ANAK YANG MENGALAHKAN LAPAR
Oleh: Telly D.
Pagi Ramadan itu berjalan pelan bagi Damar. Sekalipun perutnya sudah lama belajar bersabar, tetapi rasa lapar tetap datang seperti tamu yang keras kepala. Ia berangkat dari rumah kecil di ujung gang dengan sandal tipis yang hampir putus talinya. Di sekolah, ia duduk paling belakang tempat aman bagi anak yang sering jadi bahan ejekan. Ada yang menertawakan bajunya yang pudar, ada yang menyembunyikan bukunya, ada pula yang pura-pura menutup hidung saat ia lewat. Damar biasanya diam saja. Diam sering menjadi satu-satunya cara agar hari cepat selesai.
Siang itu, saat halaman sekolah hampir kosong, ia melihat sesuatu di dekat bangku taman: dompet kulit cokelat yang tampak baru. Ketika dibuka, isinya uang yang jumlahnya terasa seperti keajaiban bagi anak yang sering pulang dengan perut kosong. Uang sebanyak itu bisa membeli makanan untuk beberapa hari. Bahkan mungkin sepatu baru. Untuk sesaat tangannya gemetar karena godaan yang terasa begitu dekat. Di sekelilingnya tak ada yang melihat. Dunia seperti memberi kesempatan kecil bagi anak yang terlalu sering kalah.
Namun Damar menutup dompet itu kembali. Ia berjalan menuju ruang guru dengan langkah pelan, menyerahkannya tanpa banyak kata. Sore itu, saat pulang, perutnya memang masih lapar, tetapi hatinya terasa lapang. Ia tersenyum kecil, bahagia karena hari itu bukan hanya ibunya yang ia buat tersenyum dengan kejujurannya, tetapi Tuhan pun ikut tersenyum.
Makassar, Ramadan 2026

Leave a Reply