GURU DI PENGUNGSIAN

Pentigraf
GURU DI PENGUNGSIAN
Oleh: Telly D.
Aku tak lagi memiliki ruang kelas, hanya selembar terpal yang ditopang tiang bambu dan tikar tipis sebagai alas duduk. Anak-anak itu datang dengan pakaian seadanya, membawa buku yang tersisa atau sekadar kertas lusuh yang berhasil diselamatkan. Di kejauhan, suara dentuman kadang masih terdengar, tetapi aku tetap menuliskan huruf demi huruf di papan kecil yang kupinjam dari relawan. Aku mengajar seperti biasa membaca, berhitung, mengeja seolah dunia tidak sedang runtuh.
Wajah mereka terlalu cepat dewasa. Ada yang kehilangan ayah, ada yang kehilangan rumah, ada yang kehilangan keduanya. Namun ketika kami mulai membaca bersama, mata mereka kembali berbinar sebentar, seperti menemukan celah kecil tempat harapan bisa bersembunyi. Aku tahu aku tak bisa menghentikan perang, tak bisa membangun kembali rumah mereka dengan seketika, tetapi aku mencoba menjaga sesuatu yang lebih rapuh: keyakinan bahwa masa depan masih mungkin ditulis.
Hari ini aku meminta mereka menuliskan cita-cita di secarik kertas. Tangan-tangan kecil itu bergerak pelan, lalu seorang anak mengangkat wajahnya yang kurus dan berkata lirih, “Bu, kalau sekolah saja bisa hilang karena perang, apakah mimpi kami juga bisa dibom?”
Makassar, Maret 2026

Leave a Reply