DAPUR

Pentigraf
DAPUR
Oleh: Telly D.
Dapur umum tak pernah benar-benar tidur. Panci-panci berdenting sejak subuh, uap nasi naik bersama bau bawang dan lelah. Orang-orang datang dengan mangkuk, dengan antrean yang sabar, dengan perut yang belajar menunggu. Seorang perempuan selalu membantu paling awal, mengupas bawang, mengaduk sayur, mencuci panci yang lebih besar dari lengannya.
Ia bekerja tanpa pernah mengambil jatah. Ketika disodori mangkuk, ia tersenyum dan menggeleng. “Nanti,” katanya. Tangannya terus bergerak, seolah berhenti sebentar saja bisa membuat sesuatu runtuh. Kami mengira ia kuat, atau setidaknya ingin terlihat begitu.
Menjelang malam, dapur sepi. Panci terakhir dicuci, api dipadamkan. Perempuan itu duduk sendirian di bangku kayu, memegang satu mangkuk kosong. Ia menatapnya lama, lalu menaruhnya kembali. Baru saat itu aku tahu: ia memasak bukan untuk menunggu kenyang, melainkan untuk menunda pulang ke tenda, tempat tak ada lagi siapa pun yang menunggunya makan.
Makassar, 14 Desember 2025

Leave a Reply