AMIN

Pentigraf
AMIN
Oleh: Telly D.
Setiap malam setelah lampu tenda diredupkan, seorang perempuan memimpin doa. Suaranya pelan namun tegas, menyebut nama-nama korban yang belum ditemukan. Kami mengamini tanpa banyak pikir, seperti rutinitas yang menenangkan. Di antara nama-nama itu, ada satu yang selalu ia ulang, lebih lama, lebih lirih, seolah ia ingin Tuhan mendengarnya lebih dulu.
Suatu sore, aku duduk di sampingnya dan bertanya siapa nama itu. Ia tersenyum tipis. Katanya itu nama anaknya. Ia berdoa agar anak itu ditemukan dalam keadaan selamat. “Kalau belum pulang,” katanya, “berarti doanya belum dijawab.” Aku tak berani menyela, meski pagi tadi aku melihat nama itu tercetak di daftar korban yang sudah teridentifikasi.
Malamnya doa kembali dipanjatkan. Nama itu tetap disebut, tetap diamini. Tak ada yang mengoreksi. Di pengungsian, aku belajar: kadang doa bukan ditujukan untuk mengubah kenyataan, melainkan untuk menunda saat ketika kebenaran akhirnya tak bisa lagi ditukar dengan harapan.
Makassar, 12 Desember 2025

Leave a Reply