ANGKA TERAKHIR

Pentigraf
ANGKA TERAKHIR
Oleh: Telly D.
Aku disuruh menghafal nomor tenda supaya mudah dicari. Tapi aku lebih sering menghafal bunyi lapar di perutku. Di pengungsian, orang dewasa sibuk mencatat dan memotret. Mereka bilang semua akan kebagian. Aku belajar menunggu tanpa bertanya, karena bertanya hanya membuatku disuruh diam.
Siang itu aku dipilih lagi. Aku berdiri di depan kamera sambil memegang makanan yang baunya membuat kepalaku ringan. Setelah foto, kotak itu diambil. Aku melihatnya dimasukkan ke kardus lain yang lebih besar. Aku tidak marah. Aku hanya ingin tahu rasanya. Tapi tidak ada waktu untuk mencoba.
Malamnya aku menggigil. Aku menghitung napas karena angka lebih mudah daripada berpikir. Satu. Dua. Napasku pendek. Tiga. Dadaku sakit. Aku ingin memanggil Ibu, lalu ingat Ibu tidak ada, hanyut terbawa lumpur dan kayu gelondongan. Aku berhenti menghitung karena tubuhku diam sendiri. Pagi hari, orang dewasa menambah satu angka di papan. Mereka tidak perlu tahu aku sempat belajar menghitung.
Makassar, 12 Desember 2025

Leave a Reply