ARTI KEHILANGAN

Pentigraf
ARTI KEHILANGAN
Oleh: Telly D.
Di dapur umum pengungsian, aroma lauk dan nasi hangat memenuhi udara. Saya membujuk seorang anak untuk makan, menyodorkan sendok dengan senyum lembut. Namun ia menggeleng, menatap saya dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. “Aku belum bisa makan… Ibu dan adikku belum ada yang menguburkan,” bisiknya, seolah setiap suapan adalah pengkhianatan bagi mereka yang hilang. Lumpur masih menempel di tubuhnya, tetapi beban yang ia pikul jauh lebih berat daripada tanah dan air.
Saya terdiam. Sebagai tim SAR, saya terbiasa menghadapi jasad dan reruntuhan, tetapi duka yang terpancar dari anak ini tak pernah diajarkan dalam pelatihan mana pun. Ia menatap jauh ke arah desanya yang telah hilang, tempat rumah dan tawa kini tinggal bayangan. Kata-kata yang ingin saya ucapkan terasa hampa, tak mampu menembus kesunyian yang menyelimuti hatinya.
Ketika saya mencoba menyelimuti tubuhnya dengan selimut hangat, ia menariknya pelan, lalu menghampiri tubuh ibu dan adiknya. Dengan tangan kecilnya, ia menyelimuti mereka, seolah memberikan kehangatan terakhir yang ia punya. Ia tetap duduk di bawah tenda, menahan lapar dan dingin, memilih bersama mereka yang sudah pergi. Di tengah riuh pengungsian, saya belajar satu hal: menyelamatkan tubuh tak selalu berarti menyelamatkan hati.
Makassar, 5 Desember 2025

Leave a Reply