SEMPRITAN DI LEHER MENANTU

Pentigraf
SEMPRITAN DI LEHER MENANTU
Oleh: Telly D.
Mertua Raka selalu melihatnya sebagai lelaki tanpa masa depan: setiap kali berkunjung, Raka hanya mengenakan kaus olahraga, celana training, dan sempritan yang menggantung di lehernya seperti lonceng kecil pada hewan peliharaan. Di matanya, menantunya hanyalah pemuda kampung yang tak pernah naik kelas. Ia bahkan tidak hadir saat Raka dan putrinya menikah, karena masih tinggal di desa dan tak mampu bepergian jauh. Sejak itu, pandangannya terhadap Raka membeku dalam prasangka.
Ketika sang mertua pindah ke kota, konflik tumbuh pelan. Ia melihat Raka setiap pagi berangkat dengan pakaian olahraga dan menggumam bahwa anaknya memilih lelaki yang hanya pandai meniup sempritan dan melatih bocah-bocah kampung. Ia tak pernah bertanya, hanya menghakimi dalam diam. Setiap kali Raka pulang larut, wajahnya mengeras, seolah menantunya menghabiskan hidup di lapangan tanah yang tak akan membawanya ke mana-mana.
Hingga suatu sore, putrinya mengajaknya menghadiri acara kampus. Di aula besar, terpajang poster: Seminar Nasional Kepelatihan Olahraga. Pembicara Utama: Dr. Raka Wijaya. Saat Raka naik ke panggung dengan jas resmi dan berbicara penuh wibawa, sang mertua terpaku. Sempritan yang ia anggap tanda kebodohan ternyata simbol profesi seorang dosen olahraga bergelar doktor yang dihormati banyak orang.
Makassar, 4 Desember 2025

Leave a Reply