Menulis yang Tak Bertumbuh

Menulis yang Tak Bertumbuh
Oleh: Telly D.
Saya suka membaca tulisan-tulisan teman dalam berbagai grup menulis. Dari situ saya belajar bahwa rajin menulis tak selalu berarti bertumbuh. Ada beberapa yang tulisannya makin padat, matang, dan berlapis makna tampak jelas ada perjalanan di dalamnya. Tapi ada pula yang tetap sama: menulis setiap hari, disiplin, tapi tanpa perubahan. Kalimatnya lurus seperti garis penggaris, tanpa letupan, tanpa kehangatan baru. Lama-lama, hasilnya terasa membosankan.
Saya lalu bertanya dalam hati: mengapa seseorang bisa menulis bertahun-tahun tanpa berkembang? Bukankah menulis seharusnya seperti hidup bergerak, berevolusi, menemukan bentuk dan arah baru?
Pertanyaan itu lama bergema di kepala, sampai suatu malam saya mengirim pesan panjang kepada Abah Khoiri, guru penulis yang sejak dulu membimbing saya dengan kesabaran dan ketulusan, percakapan melalui WhatsApp. Namun, dari balik layar kecil itu, nasihat Abah tetap hangat seperti cahaya yang menembus kabut.
Saya bercerita panjang tentang kebuntuanku membaca tulisan-tulisan yang tak berubah. Tak lama, balasan Abah muncul:
“Mbakyu, banyak orang menulis dengan tangan, tapi tidak dengan jiwa.”
Saya terdiam.
Abah melanjutkan:
“Tulisan berhenti berkembang ketika penulis berhenti menjadi manusia yang berkembang. Kalau di dalam dirinya tak ada yang tumbuh, kalimat pun akan mati muda.”
Kata-kata itu menampar lembut. Abah kemudian menjelaskan tiga hal yang sering membuat penulis berhenti tumbuh.
Pertama, karena menulis berubah menjadi kebiasaan tanpa kesadaran.
Menulis setiap hari penting, tapi bila hanya jadi rutinitas mekanis tanpa rasa ingin tahu, ia kehilangan ruhnya. Seperti orang yang menyeduh teh tanpa lagi mencium aromanya.
Kedua, karena penulis menolak risiko.
Banyak yang terlalu nyaman dengan gaya lama. Takut bereksperimen. Takut salah. Padahal, seperti kata Abah,
“Setiap gaya baru lahir dari keberanian untuk gagal.”
Saya teringat teori Mihaly Csikszentmihalyi tentang flow manusia hanya berkembang bila berani bergerak di antara kebosanan dan kecemasan. Penulis yang stagnan adalah yang terlalu lama diam di zona aman.
Ketiga, karena berhenti membaca dan mendengar.
Tanpa bacaan baru, tanpa dialog, tulisan akan membusuk dalam gema diri sendiri.
“Kalau yang Mbakyu baca hanya diri sendiri,” tulis Abah lagi, “Mbakyu hanya akan menulis dirinya yang lama, berulang-ulang dalam seribu versi.”
Saya mengetik balasan panjang:
“Abah, beberapa teman saya menulis setiap hari. Tapi kenapa tetap tidak berkembang?”
Balasannya datang cepat:
“Rajin menulis tanpa kesadaran itu seperti berlari di treadmill. Kelelahan ada, kemajuan tidak.”
Saya tersenyum getir membaca itu. Abah memang selalu punya cara menampar tanpa menyakiti.
Ia menambahkan lagi:
“Setiap kali selesai menulis, tanyakan pada diri Mbakyu: apa yang baru aku pelajari hari ini dari tulisanku sendiri? Kalau tak ada jawaban, berarti Mbakyu hanya menulis ulang dirinya yang kemarin.”
Pesan itu saya tatap lama. Seperti kaca bening yang memantulkan wajah sendiri dengan jujur.
Beberapa hari kemudian, saya berbagi percakapan itu itu kembali dengan mengatakan:
“Mungkin orang yang tidak berkembang bukan karena tak bisa menulis, tapi karena takut berubah.”
Ya, sebagian penulis terlalu cinta pada citra lamanya. Mereka ingin dikenal lewat satu gaya tertentu, padahal di situlah kematian kreativitas bersembunyi paling rapi.
Malamnya, Abah kembali mengirim satu pesan singkat:
“Tulisan adalah cermin jiwa. Bila jiwa Mbakyu diam, cermin pun hanya memantulkan bayangan yang sama.”
Saya membaca kalimat itu seperti mantra. Di layar kecil itu, Abah seolah hadir bukan hanya mengajarkan menulis, tapi juga mengingatkan bagaimana menjadi manusia yang terus bergerak.
Sejak percakapan itu, saya mengubah cara pandang saya terhadap menulis. Saya menulis bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk menjadi lebih hidup. Saya belajar menerima kemungkinan gagal, bereksperimen dengan bentuk, ritme, dan bahkan keheningan. Dari situ, saya menemukan lagi kegembiraan menulis, kegembiraan yang tumbuh dari kesadaran, bukan sekadar rutinitas.
Kini saya percaya, penulis yang berhenti berkembang bukan karena kehabisan ide, tapi karena berhenti mendengar kehidupan. Menulis bukan hanya tentang mengatur kata, tapi tentang menumbuhkan jiwa yang terus mencari.
Dan dalam percakapan-percakapan malam melalui layar WhatsApp itu, saya akhirnya mengerti: Menulis adalah cara paling lembut untuk terus bertumbuh bahkan ketika jarak memisahkan kita dari guru yang menyalakan api di hati kita.
Makassar, 12 November 2025

November 15, 2025 at 3:33 pm
Sumintarsih
Sangat mendalam.
Bunda adalah pembelajaran sejati
November 15, 2025 at 3:37 pm
Sumintarsih
Maksud saya, Bunda Telly adalah pembelajar sejati.
November 12, 2025 at 11:50 pm
Much. Khoiri
Bagus sekali utk refleksi