November 11, 2025 in Uncategorized

Mengapa “Onggi” Menarik

Mengapa “Onggi” Menarik

Oleh: Telly D.

Judul itu sederhana, tapi hangat di lidah: Onggi.
Bagi orang Korea, onggi bukan sekadar tempayan tanah liat tempat menyimpan kimchi atau doenjang; ia adalah lambang kehidupan yang sabar, wadah yang bernafas antara tradisi dan waktu. Dalam pori-pori tanah liatnya tersimpan napas alam, kesetiaan manusia pada kesunyian kerja, dan ingatan bahwa yang sederhana sering kali paling abadi. Di tangan Tengsoe Tjahjono, kata itu berubah menjadi jendela bukan hanya menuju Korea, tapi juga ke ruang batin manusia yang mencari arti lintas budaya.

Ketika menjadi dosen tamu di Universitas Hankuk, ia tak hanya mengajar, tetapi belajar kembali bagaimana dunia memandang dari sisi lain. Ia mengamati mahasiswa yang setiap hari menunduk sopan, menghirup teh dalam diam yang penuh makna, lalu bekerja hingga larut malam tanpa keluh. Ia melihat betapa soju bukan sekadar minuman, melainkan bahasa keakraban, cara orang Korea meneguk kesepian dengan tawa kecil dan menumpahkannya dalam gelas-gelas kecil yang terus diisi kembali oleh tangan teman. Dari situ lahir cerita-cerita pendek dalam onggi kisah yang lembut tapi menggigit, mengalir seperti percakapan antara dua budaya yang saling mengintip dan menertawakan dirinya sendiri.

Yang paling menarik dari buku ini bukan hanya keindahan ceritanya, melainkan ketegangan halus antara Indonesia dan Korea: dua dunia yang sama-sama mencintai kesopanan, tetapi menyembunyikan emosi dengan cara berbeda. Di tangan Tengsoe, perbedaan itu menjadi ruang dialog, bukan jarak. Ia menulis tentang mahasiswa Korea yang merasa harus selalu kuat, tapi diam-diam ingin menangis; tentang seorang pekerja Indonesia yang belajar menunduk tapi tak mau kehilangan tawa; tentang bagaimana trauma militer dan kedisiplinan membentuk generasi Korea modern yang bergerak cepat tapi kadang kehilangan napas.

Dalam tiap cerita, ia seakan menyalakan pelita kecil: bahwa di balik kemajuan teknologi dan keheningan gunung, Korea tetap manusiawi. Dan di balik keramahan Indonesia, tersimpan kekuatan diam kesediaan untuk memahami tanpa menghakimi. Onggi bukan hanya kumpulan cerita, melainkan pertukaran jiwa antara dua bangsa.

Gaya penulisannya mengalir seperti teh hijau yang dituangkan perlahan: hangat, jernih, dan meninggalkan rasa yang lama di lidah. Ia menulis dengan kesadaran seorang penyair, setiap kalimat menampung bayangan budaya, setiap jeda mengandung permenungan. Kadang ia bercerita tentang hal remeh, seperti makan di warung kecil Seoul atau percakapan di bawah rintik salju, namun dari sana muncul makna besar: betapa manusia, di manapun ia lahir, selalu rindu akan kesederhanaan dan kedekatan.

Kekuatan utama onggi terletak pada kemampuannya merangkul yang asing tanpa kehilangan yang sendiri. Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai batas, tapi sebagai bahan untuk mengenali diri. Dalam setiap halaman terasa pergulatan batin seorang pengamat yang bukan turis, melainkan penyelam budaya seseorang yang tak hanya memotret, tapi ikut larut dalam arus kehidupan yang diamatinya.

Dan seperti onggi itu sendiri tanah liat yang ditempa dengan api, dibiarkan bernapas agar isi di dalamnya tidak busuk demikianlah buku ini: hasil pertemuan antara panas pengalaman dan sejuknya refleksi. Ia mengajarkan bahwa kehidupan modern yang serba cepat akan hampa bila tak berakar pada tradisi; bahwa kemajuan tanpa jiwa akan kehilangan rasa.

Pada akhirnya, onggi bukan sekadar kisah tentang Korea. Ia adalah cermin untuk kita, pembaca Indonesia yang sedang berlari di antara globalisasi dan akar budaya sendiri. Lewat gaya yang puitis dan jujur, Tengsoe Tjahjono mengajak kita menatap dunia, bukan dengan rasa kagum yang buta, tapi dengan mata yang tahu: setiap bangsa, seperti setiap manusia, menyimpan tempayan yang menampung ingatan, luka, dan harapan, dan hanya dengan saling membuka tutupnya kita bisa saling memahami.

Makassar, 12 November 2025




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *