Cahaya opini dari Layar

Cahaya opini dari Layar
Oleh: Telly D.
Malam itu, hanya cahaya layar yang menemani saya. Di sana, muncul pesan pendek dari Abah, guru menulis saya yang mengajar tanpa papan tulis, tanpa ruang kelas.
“Mbakyu, sudah menulis hari ini?”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti ketukan di pintu batin. Saya menjawab jujur:
“Belum, Bah. Masih bingung mau mulai dari mana.”
Tak lama, muncul balasan:
“Mulailah dari yang Mbakyu rasakan. Opini yang baik lahir dari kegelisahan, bukan sekadar keinginan bicara.”
Saya membaca ulang kalimat itu berkali-kali. Rasanya seperti baru saja diajari sesuatu yang tak tertulis di buku teori. Kegelisahan saya, mungkin di sanalah sumber kata bermula.
Saya menulis malam itu juga, tentang anak-anak yang lebih akrab dengan layar ponsel daripada halaman buku. Paragraf saya ketik cepat lalu saya kirim. Tak lama, Abah membalas:
“Mbakyu sudah punya ide. Tapi pembukanya datar. Ingat, paragraf pertama adalah wajah tulisan. Kalau wajahnya tak menarik, siapa yang mau menatap lama?”
Saya terdiam.
“Jadi, bagaimana seharusnya, Bah?”
“Itulah yang disebut lead. Buatlah pembuka yang menyalakan rasa ingin tahu. Bisa dari pertanyaan, kutipan, atau peristiwa kecil yang hidup.”
Lalu ia menulis contoh.
Saya tersenyum membaca kalimat itu. Ada keindahan yang menuntun logika. Saya pun menulis ulang pembuka tulisan saya, mencoba meniru napasnya.
“Buku-buku di sekolah kami lebih sering tidur daripada dibaca.”
Saya kirim lagi. Tak lama, balasannya datang:
“Nah, itu. Sekarang tulisannya punya wajah.”
Pelan-pelan saya mengerti: lead bukan sekadar awal tulisan, tapi jembatan menuju hati pembaca.
Beberapa hari kemudian, kami kembali berkirim pesan.
“Bah, bagian tengahnya sering bikin saya bingung. Saya takut terjebak jadi curhat.”
“Bagian tengah itulah isi, mbakyu, Di situ Mbakyu menaruh logika, data, pengalaman, dan pandangan. Kalau pembuka adalah wajah, maka isi adalah jantung tulisan Mbakyu”
“Tapi saya tak punya banyak data,” tulis saya.
“Pengalaman juga data, asal Mbakyu menulis dengan jujur. Menulis opini itu menata pikiran dengan rasa. Kalau hanya angka tanpa hati, tulisan Mbakyu kering.”
Malam itu saya menulis ulang isi tulisan. Saya menambahkan kisah di kelas tentang murid yang lebih hafal nama aplikasi daripada nama pengarang buku. Saya masukkan juga sedikit hasil bacaan daring tentang minat baca.
Kukirim draf itu.
“Bagus,” tulisnya. “Sekarang Mbakyu sudah menulis dengan dua sayap: logika dan empati.”
Kata-kata itu membuat saya terdiam lama. Mungkin di situlah inti dari isi tulisan: keseimbangan antara pikiran dan perasaan.
Beberapa hari kemudian, ketika hampir selesai menulis, saya menulis pesan lagi:
“Bah, saya kesulitan menutup tulisan. Takut terasa menggantung.”
“Paragraf penutup itu gema,” jawabnya. “Ia harus meninggalkan jejak, bukan sekadar titik akhir. Bayangkan Mbakyu berbicara, lalu berhenti pada kalimat yang membuat orang merenung.”
Ia mencontohkan beberapa bentuk penutup: bisa ajakan, bisa refleksi, bisa simpulan yang menggugah.
“Kalimat terakhir harus menjejak di hati,” katanya. “Bukan sekadar berhenti di akhir.”
Saya memperbaiki bagian akhir tulisan saya. Setelah beberapa kali menghapus dan menulis lagi, akhirnya saya menulis:
“Membaca bukan soal menyelesaikan halaman, tapi menyelamatkan pikiran agar tak mudah dikendalikan.”
Kukirimkan padanya.
“Bagus,” tulisnya singkat. “Sekarang tulisan Mbakyu punya gema.”
Malam itu saya tersenyum sendiri di depan layar. Ternyata teori menulis opini tentang lead, isi, dan penutup bisa terasa begitu hidup jika diajarkan dengan kesabaran dan kasih.
Hari-hari berikutnya, pesan dari Abah datang seperti angin kecil:
“Kalimat Mbakyu terlalu berputar.”
“Gunakan kata yang jernih.”
“Tulisan yang jujur selalu punya cahaya.”
Setiap pesannya menyala di layar handphone atau laptop seperti lentera kecil. Dan saya pun menulis lagi, tak sekadar menyusun kata, tapi juga menyusun kesadaran.
Beberapa bulan kemudian, salah satu tulisan saya dimuat di media. Saya segera mengirim tautannya. Tak lama, balasannya datang:
“Selamat. Pikiran Mbakyu sudah punya sayap. Tapi teruslah menulis. Suara yang jujur tak boleh berhenti.”
Kini, setiap kali menatap layar itu, saya teringat proses panjang yang pernah saya lakui: belajar membangun pembuka yang memikat, merajut isi yang bernapas, dan menutup dengan gema yang menenangkan.
Menulis, ternyata, bukan hanya bagaimana menemukan kata tetapi menemukan diri sendiri di antara kata-kata itu.
Dan dari layar kecil di tangan saya, saya belajar satu hal:
Cahaya yang sesungguhnya bukan berasal dari gawai, melainkan dari pikiran yang berani menyala.
Makassar, 17 Oktober, 2025

Leave a Reply