Menulis sebagai Menanam Benih

Menulis sebagai Menanam Benih
Oleh: Telly D.*)
Setiap kata adalah benih. Ada benih yang tumbuh subur menjadi pohon rindang, ada yang hanya sempat menjadi tunas kecil, ada pula yang hilang digilas hujan dan angin. Menulis adalah pekerjaan menanam. Kita menaruh kata-kata di tanah waktu, tanpa pernah tahu pasti siapa yang akan memetik buahnya.
Seorang petani tidak menanam dengan kepastian, tetapi dengan harapan. Ia menaruh benih di tanah, menyiraminya, lalu berserah pada hujan dan cahaya matahari. Begitu pula menulis. Kita menaruh kalimat di kertas atau layar, merawatnya dengan kesungguhan, lalu membiarkan waktu dan pembaca menentukannya. Tidak semua benih kata akan tumbuh, tetapi bukan berarti menanam sia-sia.
Menulis mengajarkan kesabaran. Sebagaimana pohon tidak tumbuh dalam semalam, tulisan pun tidak langsung berbuah. Ada tulisan yang baru dipetik manfaatnya bertahun-tahun kemudian. Sebuah catatan sederhana bisa menjadi penghibur bagi anak cucu kita. Sebuah refleksi kecil bisa menjadi penuntun bagi orang asing di suatu tempat jauh. Menulis adalah menanam sesuatu yang mungkin tidak akan kita nikmati sendiri, tetapi tetap berguna untuk orang lain.
Benih kata, seperti benih tanaman, juga membutuhkan tanah yang baik. Tanah itu adalah hati penulis. Bila hati keruh oleh kebencian, kata-kata yang tumbuh akan getir. Bila hati tenang dan penuh kasih, kata-kata yang lahir akan sejuk. Itulah mengapa menulis bukan sekadar keahlian teknis, tetapi juga ibadah batin. Menulis adalah cara kita membersihkan hati agar benih kata yang kita tanam bisa tumbuh menjadi kebaikan.
Bayangkan sebuah ladang luas yang ditanami banyak orang. Satu orang menanam padi, satu lagi menanam jagung, yang lain menanam bunga. Ladang itu adalah dunia literasi. Setiap orang menanam kata-katanya sendiri, dan dari keberagaman itulah lahir keindahan. Ada tulisan yang mengenyangkan pikiran, ada yang menghibur jiwa, ada yang meneduhkan hati. Semua saling melengkapi, seperti ladang yang kaya dengan berbagai tanaman.
Namun menanam benih kata juga berarti siap menerima kenyataan bahwa tidak semua tumbuh. Ada tulisan yang terlupakan, ada yang terbaca lalu hilang, ada yang ditolak pembaca. Tetapi kegagalan itu pun bagian dari ladang. Tidak ada petani yang berhenti menanam hanya karena satu musim gagal. Ia akan kembali ke ladang, menaruh benih baru, dengan keyakinan bahwa tanah tidak selalu tandus. Begitu pula penulis: kita perlu terus menulis, meski tak semua karya mendapat perhatian.
Ada benih yang kecil, tapi kelak tumbuh menjadi pohon besar. Seperti satu kalimat yang menguatkan seseorang di saat ia hampir menyerah. Ada benih yang rapuh, tetapi tetap memberi keindahan singkat, seperti bunga liar yang mekar sehari lalu gugur. Dan ada benih yang disangka tak berguna, namun ternyata menjadi obat bagi yang sakit. Menulis adalah menanam benih-benih misteri: kita tidak tahu mana yang akan bertahan, tetapi kita percaya bahwa menanam tetaplah bermakna.
Menulis sebagai menanam benih juga mengajarkan kerendahan hati. Petani tahu: ia bisa menanam dan merawat, tetapi yang menumbuhkan adalah Allah. Begitu pula penulis: kita bisa menulis dengan tekun, menyunting dengan cermat, menyebarkan dengan sabar. Tetapi siapa yang tersentuh oleh tulisan itu, siapa yang mendapat manfaat darinya, semua bukan kuasa kita. Kita hanya penanam, bukan penentu hasil.
Literasi, dengan demikian, adalah ladang besar umat manusia. Dari generasi ke generasi, kata-kata ditanam, disirami, dan diwariskan. Kitab-kitab, syair, catatan harian, surat cinta, hingga catatan kecil di pinggir buku—semuanya adalah benih. Ada yang hilang, ada yang bertahan. Dan dari yang bertahan, lahirlah peradaban. Menulis adalah bagian dari mata rantai itu: menanam agar generasi berikutnya punya ladang untuk dipanen.
Pada akhirnya, menulis membuat kita sadar bahwa hidup pun seperti menanam. Setiap sikap adalah benih, setiap perbuatan adalah ladang. Apa yang kita tabur, itu pula yang kita tuai. Dan tulisan adalah bagian dari taburan itu—jejak kecil yang kita titipkan pada bumi agar kelak tetap ada yang tumbuh, meski tubuh kita telah tiada.
Ya Allah,
Yang menumbuhkan biji di dalam tanah,
tumbuhkanlah pula benih kata yang kutanam agar menjadi kebaikan.
Ya Ar-Razzaq, Yang Maha Pemberi Rezeki,
rezekikanlah tulisanku kepada mereka yang membutuhkan cahaya.
Ya Al-Baqi, Yang Kekal,
abadikanlah kalimat-kalimat yang lahir dari keikhlasan,
agar ia tetap hidup ketika aku telah tiada.
Biarlah penaku menjadi tangan yang menabur,
biarlah kertas menjadi tanah yang menerima,
biarlah kata-kata menjadi benih yang bertumbuh.
Dan bila aku tak lagi sanggup menulis,
biarlah benih-benih sederhana yang pernah kutanam
tetap tumbuh di hati orang lain—
menjadi pohon teduh,
menjadi bunga penghibur,
menjadi buah syukur.
Makassar, 2 Oktober 2025
_____________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

Leave a Reply