Ketika Kemerdekaan Menangis

Ketika Kemerdekaan Menangis
Oleh: Daswatia Astuty*)
Delapan puluh tahun merdeka, namun bulan Agustus kali ini membawa luka. Jalanan yang seharusnya penuh semangat kini dipenuhi debu, pecahan kaca, dan helm berserakan—saksi bisu tragedi yang menelan nyawa. Air mata mengalir dari wajah anak-anak bangsa, melihat teman, saudara, bahkan orang asing tersungkur tanpa daya. Darah menodai aspal yang semestinya menjadi tempat aman bagi rakyat.
Semangat kemerdekaan yang dulu menyalakan keberanian kini teredam oleh pertikaian dan kebingungan. Anak muda yang turun ke jalan dengan niat membela kebenaran justru menyaksikan perjuangan mereka berujung pada penderitaan sesama. Setiap pecahan kaca, setiap jeritan, adalah cermin dari retaknya solidaritas dan kegagalan kita menjaga kemanusiaan. Nyawa yang hilang menjadi peringatan keras: kemerdekaan tidak berarti kebebasan tanpa batas.
Penyesalan menggelayuti hati. Kita gagal menahan amarah, gagal menyalurkan aspirasi dengan bijak, dan gagal menempatkan akal sehat di atas ego. Semangat 17 Agustus, simbol persatuan, berubah menjadi saksi bisu kehancuran. Anak bangsa yang seharusnya merayakan kemerdekaan kini terperangkap dalam rasa takut dan kesedihan.
Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajah atau bebas bersuara. Kemerdekaan sejati adalah kemampuan menjaga sesama, menghormati kehidupan, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan. Setiap tetes darah yang tumpah menjadi pengingat pahit bahwa kekerasan tidak pernah membangun.
Kini, ketika debu mulai mereda, hanya ada satu hal yang tersisa: penyesalan. Nyawa tak bisa dikembalikan, luka sulit dihapus, dan rasa takut menempel lama di hati bangsa. Generasi penerus harus belajar dari kesalahan ini, memahami bahwa kemerdekaan adalah anugerah yang harus dijaga, bukan kesempatan untuk menumpahkan amarah.
Delapan puluh tahun merdeka, namun tragedi ini menjadi cermin getir: kemerdekaan yang tidak dijaga dengan kebijaksanaan bisa ternodai dalam sekejap. Semoga air mata, darah, dan luka ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh anak bangsa. Agar kita tidak hanya merayakan kemerdekaan dengan seremonial, tetapi dengan hati yang sadar akan tanggung jawab terhadap kehidupan, perdamaian, dan masa depan sesama.
Makassar, 30 Agustus 2025
*) Dr.Daswatia Astuty,M.Pd., Pegiat literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL, Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ibu RumahTangga, Pelukis, Penulis 60 judul buku, buku terakhir Kartini Masa Kini (2025).

September 8, 2025 at 11:22 am
Cadence2105
https://shorturl.fm/DVY2F
September 7, 2025 at 6:15 pm
Sandra4409
https://shorturl.fm/Tiz2O
September 7, 2025 at 2:06 pm
Coraline310
https://shorturl.fm/wS6xA
September 5, 2025 at 2:27 pm
Samuel3820
https://shorturl.fm/5ETKA
September 3, 2025 at 8:18 am
Pedro4162
https://shorturl.fm/dKgyU