Menjadikan Duka sebagai Cahaya

Menjadikan Duka sebagai Cahaya
Oleh: Daswatia Astuty/Telly D.
Kehilangan orang yang kita cintai selalu datang bagai hujan deras di tengah ladang kering. Ia menghantam dengan deras, membasahi tanah hati yang retak, lalu meninggalkan lumpur yang lengket di setiap langkah. Namun, justru dari tanah becek itu sering tumbuh tunas baru, hijau dan tegak, seolah ingin membuktikan bahwa luka adalah rahim bagi kehidupan yang lain.
Al-Qur’an mengingatkan, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia memperoleh kemenangan.” (QS. Ali Imran: 185). Ayat ini mengajarkan bahwa kematian bukan akhir, melainkan gerbang menuju kemenangan sejati. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mengambil sesuatu dari seorang hamba yang dicintainya, lalu ia bersabar, melainkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR. Bukhari-Muslim).
Maka, menangis adalah wajar, sebab air mata adalah bahasa jiwa. Tetapi berlarut dalam putus asa adalah kealpaan. Seperti malam yang kelam, kehilangan hanyalah perhentian sejenak sebelum fajar tiba. Setiap insan yang pergi meninggalkan kita adalah cahaya kecil yang menuntun untuk hidup lebih penuh, lebih bermakna.
Lihatlah sejarah. Dari duka lahir monumen cinta yang abadi. Shah Jahan, kehilangan istri tercintanya Mumtaz Mahal, tidak karam dalam kesedihan. Ia mengabadikan cintanya dalam bangunan megah Taj Mahal, yang hingga kini menjadi lambang keabadian kasih sayang. Di tanah air, Chairil Anwar menyalakan puisinya justru dari pertarungan dengan sakit dan kesepian, sehingga lahirlah barisan kata yang terus menyulut semangat generasi. Khalil Gibran, penyair dari Lebanon, mengubah kehilangan kampung halaman dan cinta menjadi untaian prosa yang memberi makna universal tentang penderitaan dan pengharapan.
Dalam bidang ilmu, kita mengenang Isaac Newton. Ia kehilangan ayah sebelum lahir, ditinggalkan ibunya sejak kecil, namun dari kehampaan keluarganya ia menempa diri, hingga melahirkan hukum gravitasi yang mengguncang dunia. Atau Marie Curie, yang kehilangan suaminya Pierre akibat kecelakaan tragis. Kesedihan itu tidak memadamkan api jiwanya, melainkan menyalakan obor penelitian radium hingga ia meraih Nobel dua kali. Kehilangan menjadi bara, bukan abu.
Dalam sastra Nusantara, kita mengenal Rendra. Kehilangan cinta, pengasingan, dan penjara tidak menghentikan kreasinya. Ia justru melahirkan puisi-puisi pamflet yang membangkitkan bangsa. Atau Sapardi Djoko Damono, yang menulis lirih tentang waktu dan kehilangan, tapi justru dari kesenyapan itu lahir puisi yang menjadi pegangan banyak jiwa: “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…”. Kehilangan menjadi sumber kesederhanaan yang abadi.
Seorang muslim diajarkan untuk menghadapinya dengan sabar. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Ucapan ini bukan sekadar kalimat, melainkan pernyataan pasrah yang melahirkan kekuatan. Kematian bukan kegelapan, tetapi pintu menuju cahaya yang lebih luas. Yang pergi sudah selesai dengan dunianya; yang tinggal diberi kesempatan untuk menuliskan bab baru dengan tinta lebih tebal.
Hidup sesudah kehilangan adalah ujian. Namun, Allah menjanjikan: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 6). Maka, setiap kehilangan adalah undangan untuk menemukan makna baru. Kesedihan tidak selamanya menjadi rantai, ia bisa menjadi sayap. Ada orang yang jatuh, lalu bangkit dengan gemetar, tapi langkah berikutnya menjadi lebih mantap, karena ia tahu betapa rapuh dan berharganya waktu.
Monumen cinta tidak selalu berbentuk bangunan megah atau puisi yang abadi. Ia bisa berupa tindakan sederhana: mendidik anak yatim dengan penuh kasih, menanam pohon atas nama yang telah tiada, atau melanjutkan cita-cita mereka yang pergi. Setiap amal baik yang kita niatkan untuk mereka, mengalir sebagai sedekah jariyah yang tidak terputus. Rasulullah bersabda, “Apabila anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim). Maka, kita pun bisa menjadikan kehilangan sebagai jalan pahala yang tidak putus.
Bayangkan hati seperti sebuah taman. Kehilangan adalah musim gugur: dedaunan rontok, bunga-bunga mati, batang-batang meranggas. Tapi kita tahu, gugur hanyalah persiapan bagi musim semi. Dengan sabar, kita biarkan tanah istirahat, lalu menanam benih baru. Pada waktunya, bunga akan kembali merekah. Begitulah jiwa: luka adalah pupuk yang menumbuhkan keteguhan.
Jangan biarkan kehilangan membuatmu berhenti. Bangunlah monumen cintamu sendiri: dalam ilmu, dalam karya, dalam kebaikan. Karena cinta sejati tidak mati di liang kubur. Ia menjelma cahaya yang menggerakkan kita, dari duka menuju cahaya, dari kehilangan menuju kebangkitan.
Ya Allah, Tuhan yang Maha Lembut, lapangkanlah dada kami yang sempit karena kehilangan. Terangilah kubur orang-orang yang kami cintai dengan cahaya-Mu, jadikanlah mereka penghuni taman surga, jauhkan dari siksa, dan catatkan amal kebaikan mereka sebagai bekal abadi. Anugerahkanlah kepada kami hati yang sabar, langkah yang teguh, dan kekuatan untuk menjadikan kehilangan sebagai jalan pengabdian. Jangan biarkan air mata kami sia-sia, melainkan jadikan ia benih kebangkitan, agar kami bisa meneruskan cinta mereka dengan amal saleh yang Engkau ridai.
Makassar, Agustus 2025

September 25, 2025 at 3:03 am
Josue4932
https://shorturl.fm/YZYfd
September 10, 2025 at 4:48 am
Alma3966
https://shorturl.fm/SdAPi
September 9, 2025 at 8:19 pm
Alvin351
https://shorturl.fm/Toiio
August 28, 2025 at 2:15 am
Krystal2341
https://shorturl.fm/pegLJ
August 26, 2025 at 12:01 am
Brynn916
https://shorturl.fm/sfRBt
August 24, 2025 at 1:00 pm
Matthias2933
https://shorturl.fm/exO3D