DI LORONG PINISI, RASA ITU MENYALA

Pentigraf
DI LORONG PINISI, RASA ITU MENYALA
Oleh: Telly D.
Mereka sering bertemu di ruang kelas, di organisasi kampus. Tapi ketika bertemu di lorong lantai dua Menara Pinisi, saat sama-sama salah jadwal seminar, Akmal sedang membawa buku filsafat yang terlalu tebal, Mesya menenteng kalkulator dan setumpuk soal ujian. Tidak ada sapa, hanya senyum sekilas yang kemudian berulang di kantin, di halte, di fotokopian, dan akhirnya, di ruang perpustakaan tua yang sering sepi di ujung semester.
Cinta mereka tumbuh perlahan, tidak mencolok seperti spanduk Dies Natalis yang tiap tahun dibentangkan di pintu gerbang. Tapi dalam diam, mereka saling menjadi bahu ketika satu nilai tidak keluar, saat birokrasi menjengkelkan, saat seminar ditunda tanpa sebab. Meisya suka cara Akmal berbicara pelan saat menjelaskan teori keadilan, dan Akmal menyukai cara Meisya mencoret-coret buku dengan pena warna ungu seperti dunia yang tetap ingin ia warnai meski dipenuhi angka.
Pada suatu perayaan Dies Natalis, mereka duduk di tangga aula sambil mendengarkan lagu kampus yang diputar ulang dari tahun ke tahun. Tidak ada janji. Tidak ada gombal. Tapi Akmal berkata dalam hati, “Kalau aku ingin kembali ke masa ini suatu hari nanti, bukan karena kampusnya, tapi karena kamu.”
Makassar, Agustus 2025

Leave a Reply