SAAT ANAK DATANG

entigraf
SAAT ANAK DATANG
Oleh: Telly D.
Setiap kali hujan turun pelan, lelaki tua itu akan batuk dan meraba dadanya, seolah rasa sakit datang bersama rinai yang menua. Ia duduk di beranda, menatap jalan panjang tempat langkah anaknya biasa muncul. Orang-orang kampung sudah hafal: begitu keluhannya mulai terdengar, tak lama kemudian wajah muda itu akan datang membawa hangat yang tak bisa dijelaskan dengan obat.
Mereka berbincang sedikit, lebih banyak diam. Kadang hanya saling menatap, tangan tua menggenggam tangan muda seperti dua waktu yang berusaha berdamai. Ada sesuatu yang berpindah di antara mereka, bukan kata, bukan benda, mungkin sekadar rasa yang menambal celah di dada dan mengusir nyeri dari lutut. Setelah itu, sang anak pulang, meninggalkan keharuman tubuhnya seperti dupa yang belum padam.
Esok paginya lelaki tua itu berjalan ke surau, wajahnya berseri seperti pagi yang baru dicuci cahaya. Orang-orang berkata, “Mukjizat, setiap kali anaknya datang, sakitnya pergi.” Tapi malam itu, sebelum tidur, ia menatap langit-langit dan tersenyum samar: “Bukan sakitku yang pergi… hanya rinduku yang sempat terisi.”
Makassar, 14 November 2025

Leave a Reply