Ketika Tulisan Lama Terasa Asing

Ketika Tulisan Lama Terasa Asing
Oleh: Telly D.
Refleksi bersama Abah Khoiri
Semakin pendek waktu seseorang penulis mampu menilai karyanya sendiri jelek dari saat penciptaan, maka semakin cepat dia mengalami kemajuan dalam menulis.
(Much. Khoiri, 2025)
Beberapa waktu terakhir, saya membuka kembali buku-buku yang pernah saya tulis. Awalnya hanya ingin bernostalgia mengingat masa-masa penuh semangat saat naskah itu lahir, malam-malam panjang di depan layar, aroma coklat hangat yang menenangkan, dan rasa bangga ketika lembar terakhir selesai.
Namun, rasa yang muncul justru ganjil. Kalimat yang dulu saya anggap puitis kini terasa berlebihan. Paragraf yang dulu membanggakan kini tampak datar. Diksi yang dulu saya pilih dengan hati-hati, kini terasa kaku.
Saya menatap halaman itu lama, lalu tertawa kecil.Bagaimana bisa tulisan yang dulu terasa indah kini tampak begitu biasa, bahkan memalukan? Pertanyaan itu mengusik saya beberapa hari.
Akhirnya saya mengerti, bukan tulisan-tulisan itu yang berubah sayalah yang tumbuh. Setiap pengalaman membaca, menulis, dan merenung telah membentuk cara pandang baru. Yang dulu saya anggap matang, kini saya tahu masih mentah. Yang dulu saya kira kuat, kini saya sadar rapuh. Namun justru di situlah keindahan proses menulis: ia membuat kita sadar bahwa kita terus belajar.
Suatu sore saya mengirim pesan pada guru saya, Abah Khoiri.
“Abah,” tulis saya di WhatsApp, “pernahkah menulis dan tidak suka pada tulisan sendiri? Rasanya aneh, Bah. Dulu saya bangga, sekarang malah malu.”
Tak lama kemudian balasannya datang, singkat tapi dalam:
“Sering, Mbakyu. Sering sekali. Apalagi kalau waktu sudah lewat. Tulisan lama memang kadang terasa jelek. Tapi tak apa. Itu bagian dari perjalanan.”
Saya tersenyum membaca pesannya, tapi Abah melanjutkan lagi:
“Bagus kalau Mbakyu merasa tulisan lamanya kurang bagus. Itu artinya Mbakyu sudah naik tingkat. Semakin cepat seseorang sadar akan kekurangan tulisannya, semakin cepat pula dia tumbuh dalam menulis.”
Saya terdiam lama setelah membaca pesan itu.
Ternyata, ketidaksukaan pada tulisan lama bukan tanda kegagalan, melainkan bukti kemajuan. Tulisan-tulisan itu adalah jejak dari masa ketika saya belum tahu sebanyak hari ini, masa ketika saya masih belajar merangkai kata dengan nafas yang lebih pendek, lebih polos. Ia bukan kesalahan, tapi kenangan tentang perjalanan menemukan diri.
Saya sempat membalas, setengah bercanda, setengah serius:
“Bah, tapi kadang malu juga. Buku-buku itu masih dibaca orang. Kalau mereka tahu saya pun merasa tulisan itu jelek, bagaimana?”
Abah menjawab dengan gaya khasnya yang menenangkan sekaligus jenaka:
“No problem. Itu nanti malah bisa jadi cerita saat launching. Jangankan kita, penulis dunia pun begitu. Saya sudah pasang pengantar dan nama saya di sana itu tameng. Begitu saja kok repot.”
Saya tertawa membaca balasan itu, tapi pelan-pelan mengerti maknanya. Bahwa setiap karya lahir di waktunya, dengan pemahaman dan kemampuan yang kita miliki pada masa itu. Jika kini kita merasa tulisan lama kurang, berarti kita telah berjalan lebih jauh. Dan jika suatu hari tulisan hari ini pun terasa jelek, berarti kita sedang tumbuh lagi.
Menulis, pada akhirnya, bukan sekadar menciptakan teks. Ia adalah cara merekam perjalanan batin dari gugup menuju yakin, dari meniru menuju menemukan suara sendiri. Tulisan lama menjadi batu pijakan, bukan batu sandungan. Tanpanya, takkan ada tulisan baru yang lebih matang, lebih jernih, lebih dalam.
Kini, setiap kali saya membuka halaman lama dan merasa tidak puas, saya memilih untuk tersenyum. Saya ucapkan terima kasih pada diri saya yang dulu yang dengan segala ketidaksempurnaannya, berani menulis. Tanpa keberanian itu, tak akan ada saya yang hari ini masih terus belajar menulis dengan hati yang lebih tenang.
Saya tahu suatu hari nanti, tulisan saya yang sekarang pun akan terasa jelek di mata saya yang akan datang. Tapi bila hari itu tiba, saya tidak akan sedih. Saya akan tersenyum karena itu tanda saya masih berjalan, masih belajar, masih hidup sebagai penulis yang tumbuh.
Makassar. 6 November 2025

November 8, 2025 at 12:35 am
PakDSus
Meskipun terasa asing, tulisan lama tidak akan usang karena dari sana kita berani memulai. Ia menjadi tugu peringatan tentang peristiwa heroik, pertempuran melawan rasa malu dan takut memulai.
November 8, 2025 at 12:33 am
PakDSus
Meski asing, tulisan lama tak kan usang karena dari sana kita berani memulai.
November 7, 2025 at 10:13 pm
Much. Khoiri
Begitulah hakikatnya perjalanan menulis, ke depan harus semakin meningkat kualitasnya.
November 7, 2025 at 9:55 pm
Mukminin
Keren ini perjalanan panjang seorang penulis