Guru Selfie, Murid Bikin Konten: Krisis Keteladanan di Era Digital

Guru Selfie, Murid Bikin Konten: Krisis Keteladanan di Era Digital
Oleh: Telly D.
Ungkapan “guru kencing berdiri sambil selfie, murid kencing berlari sambil bikin konten” pernah terlontar dalam sebuah program televisi nasional. Sekilas terdengar lucu, tapi sesungguhnya mengandung sindiran tajam. Plesetan dari pepatah lama “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” itu kini berubah makna menjadi potret zaman ketika keteladanan moral bergeser menjadi tontonan digital.
Jika dahulu peribahasa itu menegaskan bahwa guru yang berbuat salah akan ditiru murid dengan lebih parah, kini situasinya menjadi lebih kompleks. Tambahan “sambil selfie” dan “sambil bikin konten” memperlihatkan bahwa kesalahan tidak lagi dilakukan diam-diam, melainkan disiarkan, dikemas, dan dijadikan bahan pamer di media sosial. Dunia digital telah mengubah ruang belajar menjadi ruang tayang, dan setiap tindakan bisa viral sebelum sempat direnungi.
Fenomena ini bukan sekadar lucu-lucuan. Ia mengungkap kegelisahan besar: kehilangan teladan dalam dunia pendidikan. Guru, yang seharusnya menjadi panutan moral, kini juga berhadapan dengan godaan yang sama ingin tampil, ingin diakui, ingin viral. Murid pun mengikuti dengan cara yang lebih cepat dan terbuka. Jika guru memperlihatkan perilaku yang tidak bijak di ruang publik, murid menirunya tanpa saring; hanya saja mereka melangkah lebih jauh, karena dunia mereka adalah dunia panggung digital.
Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Ki Hadjar Dewantara, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan. Kalimat ini bukan sekadar slogan, tetapi inti dari filosofi pendidikan kita. Guru yang kehilangan keteladanan berarti kehilangan separuh jati dirinya. Dalam era di mana setiap tindakan bisa direkam dan disebarkan, makna “tuladha” itu justru menjadi semakin penting.
Pendidikan, sejatinya, bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga pembentukan manusia yang berkarakter. Sebuah kajian dalam Indonesian Journal of Social Education menegaskan bahwa guru adalah model hidup nilai dan kepribadian yang nyata di hadapan murid. Ketika nilai itu tergantikan oleh dorongan tampil di media sosial, maka proses pendidikan kehilangan arah.
Riset lain di Makassar (Research Gate, 2023) menunjukkan bahwa pembekalan etika bagi guru mampu memperkuat kemampuan mereka menghadapi dilema moral di kelas serta meningkatkan hubungan kemanusiaan dengan peserta didik. Namun kini, dilema itu tidak lagi berhenti di ruang kelas. Dunia maya menghadirkan tantangan baru: bagaimana guru menjaga privasi murid, menghadapi tekanan eksposur publik, dan tetap menampilkan integritas dalam setiap unggahan.
Laporan Education How Wiki (2024) bahkan menyoroti bahwa guru abad ke-21 memikul tanggung jawab etis yang jauh lebih luas: melatih literasi digital, memastikan keadilan akses teknologi, serta membimbing murid menjadi warga digital yang beradab (digital citizenship). Dalam dunia di mana satu klik bisa menyalakan perdebatan besar, guru perlu memiliki kesadaran moral yang seimbang dengan kecakapan teknologinya.
Ungkapan “guru selfie, murid bikin konten” akhirnya menjadi peringatan bagi kita semua. Ia menyentil kenyataan bahwa pendidikan bisa kehilangan ruhnya jika keteladanan berubah menjadi pertunjukan. Bila guru lebih sibuk mempercantik citra di layar daripada membentuk karakter di jiwa, dan murid lebih sibuk membuat konten daripada belajar makna, maka pendidikan akan menjadi panggung kosong ramai di permukaan, tapi sunyi di kedalaman.
Apa yang mesti dilakukan agar guru dan murid tidak terseret arus ini?
Pertama, bagi guru:
Guru perlu menyadari bahwa setiap tindakan, di dunia nyata maupun digital, adalah bagian dari pendidikan. Etika profesional kini mencakup tanggung jawab digital. Code of Conduct for Digital Educators (Northwest Missouri University, 2024) menekankan pentingnya menjaga privasi murid, tidak menjadikan mereka objek konten tanpa izin, serta menjaga keaslian dan kejujuran dalam setiap unggahan. Guru yang mampu menahan diri dari pencitraan berlebihan justru sedang menunjukkan bentuk teladan baru: keheningan yang berwibawa.
Kedua, bagi murid:
Generasi muda harus belajar menjadi bijak digital. Tidak semua yang viral patut ditiru. Mereka perlu dibekali kemampuan berpikir kritis dan empati digital memahami bahwa di balik layar ada hati dan perasaan manusia. Pendidikan karakter kini harus mencakup kesadaran akan jejak digital, etika berbagi informasi, dan tanggung jawab terhadap dampak konten yang dibuat. Sebagaimana disebut dalam European Journal of Educational Research (2024), pendidikan modern harus menumbuhkan “kepekaan etis digital,” bukan hanya kecakapan teknis.
Ketiga, bagi lembaga dan masyarakat:
Sekolah dan komunitas pendidikan perlu menciptakan ruang reflektif: bukan sekadar menegur pelanggaran, tetapi menumbuhkan kesadaran bersama tentang nilai-nilai kemanusiaan di balik teknologi. Orang tua, dosen, dan figur publik juga memiliki peran memberi contoh bahwa kebijaksanaan jauh lebih berharga daripada popularitas.
Kita mungkin hidup di zaman yang serba cepat, tetapi nilai-nilai luhur tidak pernah kehilangan maknanya. Ketika Ki Hadjar Dewantara menulis tentang keteladanan seratus tahun lalu, ia mungkin tidak membayangkan media sosial. Namun pesan itu tetap hidup: guru adalah cermin, bukan layar; murid adalah peniru, bukan penonton.
Maka, di tengah derasnya arus digital, mari kita kembali ke ruh pendidikan: menyalakan nurani, bukan hanya layar. Guru yang menolak menjadi pusat perhatian, tetapi terus menanamkan nilai dengan kesabaran, adalah guru yang sungguh “sung tuladha.” Murid yang memilih berkarya dengan hati, bukan demi viralitas, adalah tanda bahwa pendidikan masih hidup.
Dan mungkin kelak, ketika dunia terlalu sibuk membuat konten, kita masih punya harapan pada guru yang tidak sibuk selfie, melainkan diam-diam menyalakan cahaya; agar murid tetap tahu arah untuk berlari.
Sorong, 2 November 2025

November 8, 2025 at 8:02 am
Lance2443
https://shorturl.fm/MxMfV
November 2, 2025 at 9:56 pm
Much. Khoiri
Tulisan yang berisi dan bergizi. Bahasanya juga bagus, mengalir, shg mudah diikuti