Menulis sebagai Kesaksian

Menulis sebagai Kesaksian
Oleh: Telly D.*)
Setiap manusia adalah saksi atas hidupnya sendiri. Kita melihat, mendengar, merasakan, dan menyimpan. Tetapi ingatan begitu rapuh: ia bisa pudar, bisa berubah, bisa hilang sama sekali. Menulis hadir untuk meneguhkan kesaksian itu. Ia menjadi bukti yang tertulis, agar pengalaman tidak lenyap, agar kebenaran tidak dilupakan. Menulis adalah cara manusia berkata: “Aku pernah ada, aku pernah melihat, aku pernah merasa.”
Kesaksian bukan hanya tentang perkara besar. Ia juga hadir dalam detail kecil: hujan yang jatuh di halaman, tatapan seorang ibu, bisik doa di waktu subuh. Semua itu, bila dituliskan, menjadi saksi bahwa hidup kita pernah disentuh oleh momen-momen yang sederhana namun penuh makna. Menulis membuat hal kecil tidak tersapu angin, melainkan bertahan dalam kata.
Dalam Al-Qur’an, Allah sering bersumpah demi waktu, demi matahari, demi malam, demi bintang. Semua ciptaan dijadikan saksi akan kebenaran. Maka ketika kita menulis, kita pun ikut menghadirkan saksi. Kata-kata yang kita rangkai menjadi tanda bahwa sesuatu benar-benar terjadi. Dan kelak, tulisan itu bisa bicara, bahkan ketika suara kita telah hilang.
Menulis sebagai kesaksian juga berarti melawan lupa. Sebab lupa adalah bagian dari manusia, tetapi lupa juga bisa menjadi jalan hilangnya kebenaran. Betapa banyak orang besar, peristiwa penting, bahkan doa yang tulus terlupakan hanya karena tidak ditulis. Menulis adalah perlawanan terhadap kefanaan. Ia adalah upaya menyimpan cahaya sebelum padam, merekam jejak sebelum terhapus.
Namun kesaksian bukan hanya untuk diri sendiri. Ada saatnya kita menulis demi mereka yang tak punya suara. Kita menulis tentang yang tertindas, yang dilupakan, yang tidak sempat bersuara. Dengan menulis, kita berkata: “Aku melihatmu. Aku mendengarmu. Aku bersaksi atasmu.” Tulisan itu menjadi jembatan bagi mereka yang terpinggirkan, agar hidup mereka tidak hilang begitu saja di dalam sunyi.
Kesaksian juga berarti keberanian. Sebab tidak semua saksi diterima, tidak semua kesaksian disenangi. Ada tulisan yang ditolak, ada yang dibungkam, ada yang membuat penulisnya tersisih. Tetapi saksi sejati tetap berbicara, meski dengan resiko. Menulis, dalam arti ini, bukan hanya tentang keindahan kata, melainkan tentang keberanian untuk mengatakan apa yang benar. Pena bisa menjadi saksi, sekaligus pedang.
Namun menulis sebagai kesaksian tidak selalu keras. Ia juga bisa lembut: menjadi saksi atas cinta yang sederhana, atas doa yang tenang, atas perjalanan batin yang sunyi. Tidak semua kesaksian adalah pengadilan; sebagian adalah pengingat. Menulis puisi tentang bunga yang gugur juga adalah kesaksian, bahwa kita pernah menyaksikan keindahan yang singkat. Menulis doa di tepi malam juga adalah kesaksian, bahwa kita pernah merasakan kehadiran Allah dalam sunyi.
Menulis sebagai kesaksian mengajarkan kita untuk jujur. Sebab saksi yang berdusta akan runtuh. Demikian pula tulisan: bila lahir dari kepalsuan, ia tak akan bertahan. Kejujuran adalah fondasi kesaksian. Maka menulis dengan hati jernih bukan hanya soal gaya, melainkan soal integritas. Menulis adalah menyimpan jejak, dan jejak itu hanya bermakna bila apa yang kita tinggalkan benar adanya.
Akhirnya, menulis sebagai kesaksian juga mengingatkan bahwa kita semua kelak akan memberi kesaksian di hadapan Allah. Tangan, kaki, bahkan kulit akan berbicara. Begitu pula tulisan: ia akan bersaksi tentang niat kita. Apakah kata-kata yang kita tulis menjadi kebaikan, ataukah menjadi beban? Apakah tulisan kita menyembuhkan, atau justru melukai? Setiap huruf adalah saksi, dan setiap saksi akan dipanggil.
Ya Allah,
Yang Maha Mengetahui segala rahasia,
jadikanlah tulisanku kesaksian yang jujur,
kesaksian yang menjaga kebenaran,
kesaksian yang Engkau ridhoi.
Ya As-Sami’, Yang Maha Mendengar,
izinkan kata-kataku menjadi suara
bagi mereka yang tak sempat berbicara.
Ya Al-Haqq, Yang Maha Benar,
teguhkan penaku untuk menulis kebenaran,
meski beresiko,
meski tak disukai,
meski harus berjalan sendirian.
Dan bila tiba saat aku berdiri di hadapan-Mu,
biarlah tulisan-tulisanku menjadi saksi
bahwa aku telah mencoba—
merekam hidupku,
menyuarakan kebenaran,
dan menjaga amanah kata.
Sebab menulis bukan hanya tentang mencipta,
tetapi tentang bersaksi.
Bersaksi bahwa aku pernah ada,
bahwa aku pernah melihat,
bahwa aku pernah mencintai,
dan bahwa aku pulang kepada-Mu
dengan huruf-huruf yang Engkau titipkan.
Makassar, 2 Oktober 2025
¬¬¬¬______________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

Leave a Reply