Menulis sebagai Jembatan

Menulis sebagai Jembatan
Oleh: Telly D.*)
Sejak awal manusia selalu mencari cara untuk menjangkau yang jauh: menyeberangi sungai, mendaki gunung, melintasi lautan. Tetapi ada jarak yang tak bisa ditempuh dengan kaki: jarak antara satu hati dengan hati lain, antara satu zaman dengan zaman lain. Di situlah menulis hadir—sebagai jembatan.
Menulis adalah jembatan yang menghubungkan kesendirian dengan kebersamaan. Ketika seorang penulis duduk sendiri di kamarnya, ia sesungguhnya sedang membangun jalan menuju orang lain. Kata-kata yang ia tulis menjadi papan-papan kayu yang disusun, atau lengkung batu yang dirangkai. Lalu suatu hari, seorang pembaca melintasinya. Yang jauh pun menjadi dekat, yang asing menjadi sahabat.
Bayangkan sebuah sungai lebar yang memisahkan dua desa. Selama belum ada jembatan, orang hanya bisa saling melambai dari kejauhan. Begitu jembatan dibangun, pertemuan pun terjadi: pasar digelar, kabar dipertukarkan, tawa berpindah tangan. Demikian pula dengan tulisan. Tanpa menulis, pikiran hanya tinggal di dalam diri. Tetapi begitu dituangkan ke kertas, ia bisa diseberangkan. Ada yang melintas untuk membeli gagasan, ada yang sekadar singgah untuk berteduh. Semua karena ada jembatan kata.
Menulis juga adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Catatan para leluhur adalah jembatan yang membuat kita tahu dari mana kita datang. Tanpa tulisan, sejarah hanyalah kabut yang cepat hilang. Tetapi dengan tulisan, pengalaman disimpan, hikmah diwariskan. Ketika seorang anak membaca puisi kakeknya, ia melintasi jembatan waktu—dari generasi ke generasi. Begitu pula kita menulis hari ini: membangun jembatan agar mereka yang hidup setelah kita dapat menyeberang ke dunia yang pernah kita jalani.
Jembatan bukan hanya alat melintas, tetapi juga simbol keberanian. Ia dibangun di atas jurang, di atas deras arus, di atas tanah yang rapuh. Menulis pun begitu. Setiap kali kita menulis, kita sedang menantang jurang kesalahpahaman, derasnya arus kebisingan, dan rapuhnya ingatan manusia. Kita membentangkan jembatan rapuh dari kata-kata, berharap ada yang percaya untuk meniti. Ada yang menyeberang dengan ringan, ada yang ragu-ragu, ada pula yang takut jatuh. Namun tanpa jembatan itu, tak ada pertemuan.
Menulis juga jembatan batin. Ada hal-hal yang terlalu berat untuk diucapkan langsung: luka, kerinduan, rasa bersalah. Kata-kata tertulis menjadi jembatan sunyi bagi perasaan itu. Surat cinta, catatan harian, doa yang dicatat di pinggir buku—semuanya adalah jembatan untuk menyalurkan yang tak terucap. Dengan menulis, kita menghubungkan dunia dalam dengan dunia luar.
Namun jembatan tidak selalu kokoh. Ada tulisan yang hanya jembatan kayu rapuh: bisa patah di tengah jalan. Ada yang jembatan batu: kokoh bertahan ratusan tahun. Ada pula yang jembatan gantung: bergoyang, menegangkan, tapi tetap menghubungkan. Seperti itulah variasi tulisan: ada yang sementara, ada yang abadi, ada yang menantang tapi menyelamatkan. Tidak semua tulisan harus menjadi monumen, cukup menjadi titian sederhana yang menyelamatkan seseorang di hari ia hampir tenggelam.
Menulis sebagai jembatan juga mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Sebuah jembatan tidak pernah memilih siapa yang boleh melintas. Siapapun, dengan alasan apapun, bisa menyeberang. Demikian pula tulisan. Begitu ia dilepaskan, ia bukan lagi milik penulis semata. Ia menjadi jalan umum yang bisa dilintasi siapa saja. Ada yang melintasinya dengan hormat, ada yang menginjaknya dengan kasar, ada yang hanya singgah sebentar. Penulis harus rela: jembatan yang ia bangun bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk pertemuan yang lebih luas.
Di dunia literasi, jembatan itu amat penting. Buku adalah jembatan antara budaya yang berbeda. Puisi adalah jembatan antara bahasa dan rasa. Esai adalah jembatan antara pikiran dan tafsir. Setiap tulisan memperpendek jarak, mempertemukan perbedaan, merajut yang tercerai. Dan semakin banyak jembatan dibangun, semakin mudah manusia untuk saling memahami.
Namun kita juga tahu: jembatan bisa runtuh bila tak dirawat. Begitu pula literasi. Bila kita berhenti menulis, berhenti membaca, berhenti merawat kata, maka jurang akan kembali terbuka. Jarak makin lebar, pertemuan makin sulit. Maka menulis bukan hanya tindakan pribadi, melainkan juga tanggung jawab sosial: memastikan jembatan-jembatan kata tetap berdiri, agar generasi berikutnya bisa melintas dengan aman.
Akhirnya, menulis adalah jembatan pulang. Sebab hidup ini pun sebuah perjalanan menyeberangi sungai besar: dari dunia menuju akhirat. Kata-kata yang kita tulis, bila ikhlas, bisa menjadi titian yang menolong kita di hari pengadilan. Kata-kata baik adalah jembatan cahaya, kata-kata buruk adalah jembatan yang runtuh. Kita sendiri yang menentukan bahan apa yang kita pakai untuk membangunnya.
Ya Allah,
Yang mempertemukan yang jauh,
jadikanlah tulisanku jembatan yang kokoh,
agar manusia saling memahami.
Ya Al-Baqi, Yang Kekal,
biarlah kata-kataku menjadi jembatan waktu,
yang menyambungkan generasi,
meski tubuhku telah tiada.
Ya An-Nur, Cahaya segala cahaya,
terangi jembatan kata yang kubangun,
agar setiap yang melintas
menuju-Mu dengan selamat.
Biarlah pena ini menjadi tukang kayu,
biarlah kertas menjadi sungai yang dijembatani,
biarlah kata-kata menjadi lengkung batu
yang menyatukan dua tepi.
Dan bila aku sendiri harus melintasi jembatan terakhir,
jangan biarkan aku jatuh ke jurang gelap.
Terimalah langkahku di titian-Mu,
dengan bekal kata yang pernah kutanam,
dengan doa yang pernah kutulis,
dengan cinta yang pernah kutinggalkan.
Sebab menulis bukan hanya membangun jembatan untuk orang lain,
tetapi juga jembatan untuk diriku sendiri—
agar akhirnya sampai kepada-Mu.
Makassar, 2 Oktober 2025
_____________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

October 7, 2025 at 2:51 pm
Jada2085
https://shorturl.fm/8ETBp