Menulis adalah Perjalanan Pulang

Menulis adalah Perjalanan Pulang
Oleh: Telly D.*)
Hidup, pada dasarnya, adalah perjalanan pulang. Kita datang dari Allah, singgah sejenak di bumi, lalu kembali kepada-Nya. Di sepanjang jalan, kita membawa bekal berupa tubuh, pikiran, dan jiwa, lengkap dengan luka dan syukur, tawa dan tangis. Menulis adalah salah satu cara menandai jalan pulang itu. Setiap kata adalah batu kecil yang kita letakkan di sepanjang jalan, agar jejak kita tidak hilang ditelan angin waktu.
Menulis bukan sekadar aktivitas mencatat, ia adalah ziarah. Setiap kalimat adalah langkah, setiap halaman adalah tapak. Saat kita menulis, kita sesungguhnya sedang menapaki kembali jalan menuju rumah asal. Ada yang pulang lewat doa, ada yang pulang lewat amal, ada yang pulang lewat kesabaran, dan ada pula yang pulang lewat tulisan. Sebab tulisan adalah cara jiwa menyalakan lentera, agar jalan yang panjang tidak terasa gelap.
Menulis berarti menyusun peta. Peta itu tidak selalu indah; kadang penuh jalan buntu, kadang dipenuhi coretan salah arah. Tetapi justru dari situlah kita belajar. Tulisan menyimpan kesalahan yang pernah kita buat, sekaligus arah yang kita temukan kembali. Membaca tulisan lama sama seperti membuka catatan perjalanan: kita melihat betapa jauh sudah berjalan, betapa sering kita tersesat, dan betapa Allah selalu memberi jalan pulang.
Bayangkan seorang musafir yang berjalan di padang luas. Tubuhnya adalah langkah, pikirannya adalah kompas, jiwanya adalah cahaya bintang. Menulis adalah catatan perjalanan yang ia buat di sepanjang jalan: tentang oase yang menyegarkan, tentang badai yang melelahkan, tentang malam sunyi yang penuh doa. Tanpa catatan itu, perjalanan mudah terlupakan. Dengan catatan itu, perjalanan menjadi bermakna, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang lain yang kelak menapaki jalan serupa.
Tulisan menjadikan perjalanan kita tidak sia-sia. Luka yang ditulis menjadi pelajaran. Syukur yang ditulis menjadi doa. Kerinduan yang ditulis menjadi jembatan. Bahkan kegagalan yang ditulis pun bisa menjadi peringatan bagi yang datang kemudian. Menulis adalah cara kita berkata: “Aku pernah melalui jalan ini, dan inilah yang kupelajari.”
Namun menulis sebagai perjalanan pulang bukan hanya soal mengenang masa lalu. Ia juga tentang menyiapkan masa depan. Setiap kata yang kita tuliskan hari ini adalah bekal yang akan kita bawa esok. Seperti musafir yang menyimpan air di kantong kulitnya, kita pun menyimpan kata-kata sebagai bekal batin. Saat tubuh lelah dan pikiran buntu, kita bisa kembali membaca tulisan lama, lalu menemukan tenaga baru untuk melangkah.
Ada perjalanan pulang yang panjang, ada yang pendek. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan langkah terakhirnya. Karena itu, menulis menjadi semacam doa yang terus berlangsung. Setiap kalimat adalah permohonan diam-diam, agar jalan pulang kita diterangi. Setiap catatan adalah bekal kecil, agar ketika sampai di akhir perjalanan, kita tidak datang dengan tangan kosong.
Menulis juga membuat kita sadar bahwa pulang bukan sekadar soal tujuan, tetapi juga soal proses. Jalan pulang sering berliku, penuh godaan, penuh persinggahan. Ada kalanya kita tergoda untuk berhenti terlalu lama di sebuah tempat, terbuai oleh kesenangan sesaat. Ada kalanya kita tersesat di jalan yang gelap. Tetapi tulisan menolong kita untuk mengingat: ada tujuan yang lebih besar, ada rumah yang sejati. Setiap kali menulis, kita diingatkan kembali bahwa hidup ini tidak selamanya, bahwa perjalanan ini menuju keabadian.
Bila menulis adalah perjalanan pulang, maka pembaca adalah sahabat seperjalanan. Kita mungkin tidak mengenal mereka, tetapi tulisan membuat kita berjalan bersama. Kata-kata melintasi ruang dan waktu, menyentuh hati orang yang tidak pernah kita temui. Itulah keajaiban literasi: ia menjadikan perjalanan pulang kita bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang persaudaraan manusia.
Pada akhirnya, menulis adalah cara sederhana untuk pulang dengan lebih tenang. Kita mungkin tak mampu membawa harta, tak mampu membawa rupa, tak mampu membawa suara. Tetapi kita bisa membawa kata. Kata yang pernah jujur, kata yang pernah tulus, kata yang pernah mendoakan. Dan barangkali, di hadapan Allah, kata itulah yang akan menjadi saksi perjalanan kita.
Ya Allah,
Yang menuliskan takdir di Lauhul Mahfuzh,
jadikanlah setiap tulisanku tanda jalan, agar aku tidak tersesat dari-Mu.
Ya Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih,
temani setiap kalimatku dengan kasih, agar tulisanku menjadi sahabat bagi sesama.
Ya As-Salam, Yang Maha Damai,
tenangkan langkahku agar perjalanan pulang ini berakhir dengan damai.
Biarlah penaku menjadi tongkat musafirku,
biarlah kertas menjadi pasir yang kutinggalkan jejak,
biarlah kata-kata menjadi bintang yang menuntunku.
Dan bila tiba waktuku tiba di dermaga terakhir,
biarlah tulisan-tulisan kecilku menjadi saksi—
bahwa aku telah mencoba melangkah,
meski tersandung,
meski tersesat,
tetapi tetap pulang kepada-Mu.
Makassar, 2 Oktober 2025
¬¬¬¬_____________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

October 21, 2025 at 5:06 pm
Rose4260
https://shorturl.fm/iBe2L
October 19, 2025 at 3:16 pm
Alayna4826
https://shorturl.fm/TjyYl