GURU DI GARIS DEPAN

Pentigraf
GURU DI GARIS DEPAN
Oleh: Daswatia/Tellyy D.
Pak Saleh datang ke sekolah dengan satu buku tulis, dua batang kapur, dan luka yang belum sembuh di pahanya. Dulu ia guru bahasa Melayu, kini ia guru gerilya mengajari anak-anak membaca sambil mengajarkan sandi militer dan cara menyembunyikan pesan dalam puisi. Ia percaya, bahwa kemerdekaan tak bisa dijaga oleh senjata saja, tetapi juga oleh makna yang tinggal di kepala.
Kelasnya terletak di belakang gudang beras, papan tulisnya dari seng bekas, dan atapnya bocor saat hujan turun. Tapi tiap pagi, anak-anak datang dengan mata yang nyala, karena mereka tahu: di balik huruf, ada arah. Pak Saleh mengajar dengan suara lirih, tapi tegas. Ia tak pernah marah, hanya berhenti bicara ketika mendengar suara tembakan di kejauhan.
Suatu hari, ia ditangkap saat membawa kamus tua yang disangka buku propaganda. Ia hilang sejak itu. Tapi di kelasnya, seorang murid menulis di papan: “Guru kami tidak mati, ia hanya sedang mengajar kata ‘merdeka’ di tempat yang lebih sulit.”
Makassar, Agustus 2025

September 21, 2025 at 3:10 am
Haleigh2093
https://shorturl.fm/O2xdD
September 10, 2025 at 8:54 am
Scott3652
https://shorturl.fm/TkJXN
August 26, 2025 at 12:01 am
Channing590
https://shorturl.fm/TMWeE