KETIKA TULISAN MENOLAK MENJADI BISING

KETIKA TULISAN MENOLAK MENJADI BISING
Oleh: Telly D.
Ada sesuatu yang diam-diam saya takutkan di zaman ini: manusia semakin cepat melihat, semakin cepat mendengar, tetapi semakin sedikit benar-benar membaca. Dunia bergerak seperti arus yang terburu-buru. Gambar berlomba menarik perhatian mata. Musik datang silih berganti memenuhi telinga. Teknologi membuat segala sesuatu menjadi singkat, instan, dan mudah dikonsumsi. Di tengah keadaan itu, saya justru menemukan diri saya berdiri di tempat yang sunyi tetap mencintai tulisan dan bacaan. Bukan karena saya menolak perkembangan zaman, tetapi karena saya percaya ada sesuatu dalam membaca yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh gambar, suara, atau kecanggihan teknologi apa pun. Dan keyakinan itu semakin kuat setelah saya mengalami sendiri perjalanan aneh dari sebuah cerita pendek yang pernah saya tulis.
Saya pernah menulis sebuah cerita pendek yang hanya terdiri atas tiga paragraf. Sangat sederhana. Tidak panjang, tidak megah, bahkan mungkin terlihat kecil dibanding begitu banyak karya besar di luar sana. Namun bagi saya, tulisan itu bukan sekadar rangkaian kalimat. Di dalamnya ada pengalaman batin, cara saya memandang kehidupan, dan kesunyian yang saya titipkan diam-diam kepada pembaca. Saya menulisnya seperti orang menanam benih tanpa tahu apakah ia akan tumbuh atau tidak.
Waktu berjalan, lalu sesuatu yang tidak saya sangka terjadi. Ada seseorang yang membaca tulisan itu dan mengubahnya menjadi komik. Kata-kata yang sebelumnya hanya hidup di kepala dan hati pembaca mendadak memiliki wajah, warna, dan gerakan. Tokoh-tokohnya menjadi terlihat jelas. Suasananya menjadi nyata. Tidak lama kemudian, ada lagi yang menjadikannya musik. Kalimat-kalimat yang lahir dari keheningan berubah menjadi nada yang dapat didengar banyak orang. Tulisan kecil itu menjelma menjadi bentuk-bentuk baru, bahkan mungkin mampu memberi manfaat dan rezeki bagi orang lain.
Saya bersyukur melihat perjalanan itu. Saya menyadari bahwa karya sastra memang memiliki kemampuan untuk hidup melampaui bentuk asalnya. Sebuah cerita dapat berjalan dari halaman buku menuju gambar, suara, layar, dan berbagai medium lain yang terus berkembang bersama teknologi. Dan mungkin, di masa depan, perubahan itu akan menjadi semakin jauh. Cerita bisa berubah menjadi animasi otomatis, dunia virtual, atau pengalaman interaktif yang dapat mengajak pembaca masuk langsung ke dalam cerita. Teknologi akan terus membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi sastra.
Tetapi anehnya, di tengah kekaguman saya terhadap semua perkembangan itu, hati saya tetap kembali kepada tulisan dan bacaan. Saya tetap merasa paling nyaman ketika cerita itu dibaca perlahan dalam kesunyian. Mengapa demikian? Karena membaca memberi pengalaman yang berbeda dibanding hanya melihat komik atau mendengar musik.
Komik memang memudahkan mata memahami cerita. Musik mampu mengguncang emosi dengan cepat. Namun keduanya sering kali sudah menyediakan bentuk jadi bagi penikmatnya. Wajah tokoh sudah ditentukan. Suasana sudah diarahkan. Emosi sudah dibimbing oleh warna dan nada. Sementara membaca memberi kebebasan yang jauh lebih luas. Ketika membaca, manusia tidak hanya menerima cerita, tetapi ikut menciptakannya kembali di dalam pikirannya sendiri.
Saat membaca satu kalimat, setiap orang membangun dunia yang berbeda di dalam batinnya. Satu paragraf dapat melahirkan seribu wajah tokoh, seribu nada suara, dan seribu suasana yang berbeda pada setiap pembaca. Imajinasi bekerja. Pikiran merenung. Jiwa berjalan perlahan menyusuri makna. Membaca bukan sekadar aktivitas melihat huruf, tetapi latihan batin untuk berpikir, merasakan, dan memahami kehidupan secara lebih dalam.
Mungkin itulah sebabnya saya merasa membaca jauh lebih intim. Dalam membaca, saya tidak merasa digiring. Saya merasa diajak berjalan bersama tulisan itu. Ada ruang sunyi antara kata dan hati yang tidak dapat sepenuhnya dihadirkan oleh gambar maupun musik. Tulisan memberi kesempatan kepada manusia untuk mendengar suara dirinya sendiri.
Dari pengalaman kecil itu, saya mulai memandang masa depan sastra dengan cara yang berbeda. Saya percaya teknologi tidak akan membunuh sastra. Yang berubah hanyalah cara manusia menyampaikan cerita. Dulu manusia bercerita di sekitar api unggun. Kemudian lahir manuskrip, buku cetak, radio, film, dan kini kecerdasan buatan. Semua itu hanyalah perubahan bentuk. Namun kebutuhan manusia untuk mencari makna tidak pernah berubah.
Justru di zaman yang semakin dipenuhi gambar bergerak dan suara yang bising, tulisan mungkin akan menjadi semakin berharga. Karena tulisan memerlukan kesabaran. Membaca memerlukan perenungan. Dan di dunia yang serba cepat, sesuatu yang mengajak manusia berhenti sejenak untuk berpikir akan menjadi sangat langka.
Saya tidak menolak komik, musik, atau teknologi. Semuanya memiliki keindahan dan perannya masing-masing. Tetapi saya percaya tulisan tetap memiliki tempat yang tidak tergantikan. Sebab tulisan tidak hanya menyampaikan cerita; tulisan menciptakan ruang dialog antara jiwa penulis dan jiwa pembacanya. Ia tidak berteriak, tetapi berbisik. Dan kadang-kadang, bisikan justru tinggal paling lama di dalam hati manusia.
Mungkin suatu hari nanti dunia akan dipenuhi cerita yang dibuat mesin dalam hitungan detik. Mungkin layar akan menggantikan banyak halaman buku. Mungkin manusia akan lebih sering mendengar daripada membaca. Namun saya percaya, selama manusia masih memiliki hati yang ingin dimengerti, tulisan akan tetap hidup. Sebab di antara semua bentuk seni yang semakin ramai dan bergerak cepat, membaca tetap menawarkan sesuatu yang sederhana tetapi sangat mendalam: kesempatan bagi manusia untuk duduk dalam sunyi, lalu menemukan dirinya sendiri di antara huruf-huruf yang diam.
Makassar, Mei 2026

Leave a Reply