UNDANGAN

Pentigraf
UNDANGAN
Oleh: Telly D.
Ia dikenal sebagai penulis yang tak pernah bersembunyi di balik kalimat aman. Tulisan-tulisannya mengalir seperti arus deras, menguliti politik, membongkar isu ijazah palsu, menelanjangi wajah negara yang kerap disamarkan. Ia menulis dengan terang, nyaris tanpa tedeng aling-aling, seolah kata-kata adalah satu-satunya cara bernapas. Orang-orang membacanya dengan takjub sekaligus cemas, sebab keberanian seperti itu sering kali berbayar mahal.
Semakin tajam tulisannya, semakin banyak bisik-bisik mengiringi langkahnya. Nama-nama yang tersinggung mulai beredar, ancaman tak selalu terdengar, tetapi terasa. Ketika ia menulis panjang tentang korupsi tanpa kompromi, tanpa takut ramalan buruk pun bermunculan. Undangan dari KPK tiba seperti petir menyambar di siang bolong, selama ini tempat itu lebih sering dikaitkan dengan mereka yang tersandung kasus, membuat bayangan tentang pemeriksaan dan tekanan terasa semakin nyata.
Pada hari itu, ia melangkah menuju gedung KPK dengan dada berdebar, menyadari bahwa undangan ke sana kerap menjadi pintu bagi para koruptor, bukan tempat pulang bagi seorang penulis. Tatapan orang-orang mengiringinya dengan kecemasan yang sama, seolah ia sedang berjalan menuju sesuatu yang menegangkan. Namun di dalam, arah cerita berbalik diam-diam, dan ia berdiri menerima penghargaan atas tulisannya tentang antikorupsi yang memecahkan rekor MURI. Ia hanya tersenyum, lalu berbisik pelan, “Barangkali aku termasuk sedikit orang yang datang ke KPK untuk sesuatu yang menyenangkan.”
Makassar, April 2026

Leave a Reply