Kami Mengantrol Kebenaran ke Permukaan

Kami Mengantrol Kebenaran ke Permukaan
Oleh: Telly D.*)
Korupsi tidak pernah berdiri sendiri. Ia hidup dari pembiaran, tumbuh dari ketakutan, dan gemuk oleh mereka yang diam-diam menikmatinya. Ia tidak selalu berwajah Garang; kadang ia tersenyum, berjabat tangan, bahkan duduk terhormat di kursi-kursi kekuasaan. Dan lebih berbahaya lagi, ia merasa aman. Terlalu lama merasa aman.
Saya datang ke ruang KPK itu dengan membawa sesuatu yang tidak kasatmata: kemarahan yang telah lama ditahan. Bukan kemarahan yang meledak, tetapi yang mengendap, mengeras, dan akhirnya menemukan jalannya sendiri. Dulu saya pernah diragukan disebut bukan penulis, hanya paccarita. Tapi hari itu, saya tidak datang untuk membuktikan apa-apa kepada siapa pun. Saya datang untuk berdiri di garis yang jelas: melawan.
Di hadapan saya, terkumpul ratusan penulis. Ini bukan kumpulan biasa. Ini barisan. Ini tekanan. Ini gelombang integritas yang tidak lagi bisa dianggap remeh. Bersama Pena integritas KPK, SIP Publishing, dan gagasan yang digerakkan oleh Gol A Gong, kami tidak sedang berkarya, kami sedang mengantrol sesuatu yang selama ini disembunyikan ke permukaan.
Karena korupsi bukan sekadar pelanggaran. Ia adalah kejahatan yang rapi. Ia mencuri tanpa suara, membunuh tanpa darah, menghancurkan tanpa terlihat. Ia membuat yang lemah semakin tenggelam, dan yang kuat semakin kebal. Dan yang paling menyakitkan, ia sering dibenarkan dengan alasan-alasan yang terdengar masuk akal.
Di ruang peluncuran buku itu, saya merasakan ketegangan yang tidak diucapkan. Seratus orang yang diundang hadir bukan sekadar penulis. Kami adalah kumpulan yang menolak untuk tunduk. Di luar sana, ada yang memilih diam. Ada yang memilih menikmati. Bahkan mungkin ada yang diam-diam menertawakan upaya ini. Tetapi mereka lupa satu hal: ketika kata-kata berkumpul, ia tidak lagi bisa diabaikan.
Empat puluh jilid buku berdiri seperti berkas perkara. Dan di jilid ke-9, ada tulisan saya, kecil, mungkin tak seberapa. Tapi hari itu saya sadar, tidak ada tulisan yang benar-benar kecil ketika ia berdiri di sisi yang benar. Setiap kalimat adalah tuduhan. Setiap paragraf adalah perlawanan.
Saya membayangkan wajah-wajah yang merasa terganggu oleh ini. Mereka yang selama ini nyaman dalam sistem yang kotor. Mereka yang menganggap semua ini hanya formalitas, hanya proyek, hanya angka. Mereka salah. Ini bukan angka. Ini akumulasi keberanian.
Rekor Muri hanya akan mencatat jumlah 1.681 penulis, 40 jilid. Tetapi yang tidak tercatat adalah getaran yang lahir dari pertemuan ini. Getaran yang perlahan akan merambat, masuk ke ruang-ruang yang selama ini tertutup, mengusik, mengganggu, bahkan mungkin meruntuhkan.
Hari itu, saya tidak lagi melihat diri saya sebagai seseorang yang pernah diragukan. Saya melihat diri saya sebagai bagian dari tekanan itu. Tekanan yang tidak bisa dibungkam. Tekanan yang tidak bisa dibeli. Ini bukan lagi tentang menulis. Ini tentang memilih. Dan kami telah memilih dengan sangat jelas: kami tidak akan berdiri di sisi yang menikmati kehancuran orang lain.
Ketika saya meninggalkan gedung KPK, saya membawa sesuatu yang lebih berat dari sekadar kenangan. Saya membawa kesadaran bahwa perlawanan ini tidak boleh berhenti di halaman buku. Ia harus hidup. Ia harus terus mengganggu.
Karena itu selama masih ada yang menikmati korupsi, maka kami akan terus menulis bukan untuk didengar, tetapi untuk memastikan mereka tidak pernah benar-benar bisa merasa tenang lagi.
Jakarta, 23 April 2026
Telly D.*), nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M. Pd., seorang pegiat literasi, penasihat komunitas menulis RVL, pemerhati pendidikan, penasihat IGMP Matematika, pelukis, dan penulis 65 judul buku lebih, buku terakhir Tinta yang Bersujud (2026).

Leave a Reply