Jejak yang Kembali Menyapa

Jejak yang Kembali Menyapa
Oleh: Telly D.*)
Undangan itu datang ibarat angin yang membawa aroma masa lalu lembut, dan menggetarkan sesuatu yang lama tersimpan. Saya sementara di Jakarta untuk menerima penghargaan sebagai pengukir Rekor Muri cerpen anti korupsi di Gedung KPK. Temu alumni nasional SMP Athirah Kajaolalido bukan sekadar pertemuan, melainkan sebuah perjalanan pulang: ke ruang-ruang kelas yang pernah riuh oleh tanya, ke langkah-langkah awal yang dulu ragu namun penuh harap. Saya berupaya hadir sebagai seorang guru, tanpa menyangka bahwa di sana, waktu akan mempertemukan kembali bukan hanya orang-orang, tetapi juga makna tentang mengajar, tentang dikenang, dan tentang terima kasih yang akhirnya menemukan jalannya.
Dalam pertemuan itu wajah-wajah yang dulu duduk di bangku sederhana kini berdiri dengan cerita hidup yang beragam. Ada yang datang dengan keberhasilan yang tampak, ada pula yang membawa perjuangan yang tak terlihat. Namun, semuanya kembali dengan satu kesadaran yang sama: bahwa ada titik awal yang pernah menyatukan mereka.
Temu alumni, bagi saya, bukan sekadar ajang melepas rindu atau menertawakan kenangan lama. Ia adalah ruang untuk merajut kembali makna yang mungkin sempat tercecer di sepanjang perjalanan hidup. Di sanalah kita menyadari bahwa perjalanan seseorang tidak pernah berdiri sendiri. Ada tangan-tangan yang pernah menuntun, ada suara-suara yang pernah menguatkan, dan ada sosok-sosok yang diam-diam menjadi bagian dari arah yang kita tempuh.
Ketika saya dan para guru lainnya dipanggil ke depan, suasana berubah menjadi lebih hening. Ada rasa haru yang tidak diucapkan, tetapi terasa jelas. Kami dimuliakan, dihormati, dan diberi bingkisan sebuah magic jar, dan sebuah sajadah. Benda-benda itu sederhana, namun di dalamnya tersimpan makna yang tidak sederhana.

Direktur, dan Sesama Guru yang Dulu Sama-sama Mengabdi di SMP Athirah. Foto: Dokumen Pribadi
Saya memandang bingkisan itu dengan hati yang perlahan memahami. Magic jar adalah alat untuk mengolah, untuk mengubah sesuatu yang mentah menjadi layak dinikmati. Bukankah itu cerminan dari peran seorang guru? Mengolah pengetahuan, menumbuhkan pemahaman, dan perlahan membentuk seseorang menjadi lebih siap menghadapi kehidupan. Sementara sajadah, seakan mengingatkan bahwa dalam setiap proses mendidik, ada doa-doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan.
Di titik itu, saya menyadari bahwa hadiah tersebut bukan sekadar pemberian, melainkan sebuah bahasa bahasa terima kasih yang tidak selalu mampu diucapkan dengan kata-kata. Ada rasa hormat yang disampaikan dengan cara yang halus, tanpa perlu banyak penjelasan. Menghargai guru, ternyata bukan mengangkat tinggi-tinggi sosoknya, melainkan mengakui bahwa pernah ada peran yang mungkin kecil di mata, tetapi besar dalam perjalanan hidup seseorang.

Penulis Bersama Kepala SMP Athirah Sekarang. Foto: Dokumen Pribadi
Temu alumni itu pun menjelma menjadi ruang refleksi. Ia mengajarkan bahwa kembali bukan berarti mundur, melainkan melihat ulang dengan lebih jernih: dari mana kita berasal, siapa saja yang pernah membantu kita berdiri, dan apa yang seharusnya kita jaga dalam ingatan. Dalam dunia yang terus bergerak cepat, momen seperti ini menjadi penyeimbang mengajak kita untuk berhenti sejenak dan menghargai akar yang telah menumbuhkan kita.
Saya pulang dengan membawa keyakinan yang diperbarui. Bahwa menjadi guru bukanlah peran yang sia-sia. Bahwa setiap kata yang pernah diucapkan, setiap usaha yang pernah dilakukan, memiliki tempatnya sendiri di masa depan meskipun kita tidak selalu melihat hasilnya secara langsung.
Dan pada akhirnya, saya memahami satu hal sederhana: bahwa jejak seorang guru mungkin tidak selalu terlihat, tetapi ia akan selalu ada menyapa, di waktu yang tepat, dalam bentuk yang tak terduga.
Makassar, 25 April 2026
Telly D.*), nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M. Pd., seorang pegiat literasi, penasihat komunitas menulis RVL, pemerhati pendidikan, penasihat IGMP Matematika. pelukis,dan penulis lebih 65 judul buku, buku terakhir Tinta yang Bersujud (2026).

April 27, 2026 at 1:48 am
Hermawati Balfas
Masya ibu…saya semeja dg ibu tapi tak tahu klu qt sangat luar biasa sbg penulis….semeja malam itu bersama ibu kepsek Athirah. Saya Hermawati Balfas angkatan 90 Bu