Kembali ke Pelataran Rahmat

Kembali ke Pelataran Rahmat
Oleh: Telly D.*)
Ada tempat-tempat yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan meski waktu telah membawa kita jauh, dan peran telah berganti tanpa kita sadari. Pagi itu, ketika langkah saya kembali menyentuh pelataran masjid yang pernah saya rintis, ada getar halus yang merambat dari ingatan menuju rasa. Bangunan itu kini berdiri megah dan indah, tetapi yang lebih menggetarkan adalah kenyataan bahwa ia menyimpan jejak doa, harapan, dan keyakinan yang dulu kami tanam dengan penuh kesungguhan. Di sanalah, di antara sunyi yang hidup, saya kembali bertanya pada diri sendiri: mengapa dulu saya menamainya Rahmatan lil ‘Alamin dan apakah makna itu masih berdenyut hingga hari ini?
Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika kaki ini benar-benar menapak di pelataran masjid itu. Dulu, tempat ini hanyalah tanah kosong dengan mimpi yang kami bangun perlahan bersama keterbatasan, kerja keras, dan doa-doa yang tak pernah putus. Tidak ada kemegahan saat itu, hanya keyakinan bahwa sesuatu yang besar bisa tumbuh dari niat yang tulus. Hari ini, ia berdiri dengan keindahan yang tak lagi sederhana. Jamaah datang silih berganti, suara doa mengisi ruang, dan kehidupan mengalir di setiap sudutnya.
Saya berdiri agak lama, memandang setiap detailnya. Ada kenangan yang melekat di sana, keringat yang jatuh tanpa banyak kata, perdebatan yang mengasah arah, dan harapan yang dulu kami genggam meski sering diuji keraguan. Dan di tengah semua itu, terpatri sebuah nama yang dulu saya pilih dengan kesadaran yang sederhana namun penuh makna: Rahmatan lil ‘Alamin.
Saya mencoba mengingat kembali alasan di balik nama itu. Saya tidak ingin masjid ini hanya menjadi tempat ibadah dalam arti yang sempit. Saya ingin ia menjadi ruang hidup yang menghadirkan kebaikan yang melampaui dinding-dindingnya. Tempat di mana siapa pun yang datang tidak merasa dihakimi, tetapi diterima. Tempat yang tidak membuat orang merasa kecil, tetapi justru menguatkan mereka untuk kembali berdiri.

Tampak Depan Rahmatan lil’Alamin BPMP Sulbar. Foto: Dokumen BPMP
Rahmatan lil ‘Alamin, rahmat bagi seluruh alam. Bagi saya, itu bukan sekadar ungkapan indah, tetapi arah yang ingin saya tanamkan sejak awal. Bahwa masjid ini tidak boleh eksklusif. Ia harus terbuka, hangat, dan memeluk. Ia harus menjadi ruang di mana agama hadir sebagai kasih sayang, bukan sebagai beban. Di dalamnya, orang belajar bukan hanya tentang hubungan dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih lembut kepada sesama.
Kini, ketika saya melihat masjid ini telah tumbuh dan berkembang begitu rupa, saya tidak hanya melihat keberhasilan fisik. Ada pertanyaan yang diam-diam muncul dalam hati: apakah ruh dari nama itu masih hidup? Apakah ia masih menjadi rahmat bagi siapa pun yang datang? Apakah orang-orang yang melangkah ke dalamnya masih merasakan ketenangan, penerimaan, dan kedamaian?
Harapan saya dulu sebenarnya sederhana, tetapi dalam. Saya berharap setiap orang yang masuk ke dalam masjid ini akan keluar dengan hati yang lebih lapang. Yang gelisah menemukan ketenangan, yang merasa jauh menemukan jalan pulang, dan yang lelah menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup. Saya berharap masjid ini tidak hanya menjadi tempat sujud, tetapi juga tempat tumbuhnya empati, keadilan, dan kepedulian sosial.
Saya juga berharap bahwa nama itu terus menjadi pengingat bagi siapa pun yang mengelolanya. Bahwa masjid bukan sekadar simbol kemegahan atau kebanggaan. Ia adalah amanah yang harus dijaga dengan hati. Ia harus hidup bersama masyarakatnya, hadir dalam kesulitan mereka, dan menjadi bagian dari solusi. Menjadi tempat di mana ilmu berkembang, akhlak dibentuk, dan rasa kemanusiaan dipelihara.
Di pelataran ini, saya akhirnya menyadari bahwa nama bukan sekadar label. Ia adalah doa yang ditanam jauh ke masa depan. Dan Rahmatan lil’Alamin adalah doa agar tempat ini tidak pernah kehilangan arah agar ia terus menjadi sumber kebaikan yang mengalir, bahkan ketika orang-orang yang dulu merintisnya telah lama melangkah pergi.
Hari ini, saya datang bukan sebagai pemimpin, bukan pula sebagai perintis. Saya datang sebagai seseorang yang pernah menanam harapan di tempat ini. Dan saya pulang dengan doa yang sama seperti dulu: semoga masjid ini tetap setia pada namanya menjadi rahmat bagi siapa saja, bagi apa saja, dalam cara-cara yang mungkin tak selalu terlihat, tetapi selalu terasa.
Makassar, Maret 2026
*) Telly D. adalah nama pena dari Dr. Daswatia Astuty, M. Pd. Kepala LPMP Sulbar yang Pertama tahun 2009 – Oktober 2016.

Leave a Reply