Silaturahmi Tak Terputus

Silaturahmi Tak Terputus
Oleh: Telly D.
Ada momen dalam hidup ketika kita berhenti sejenak, bukan karena lelah berjalan, tetapi karena ingin memastikan bahwa kita tidak melupakan siapa saja yang pernah berjalan bersama kita. Hari ini adalah momen itu.
Hari ini kami berkumpul dalam suasana yang hening namun hangat. Sebuah pengajian sederhana, yang sarat makna, kami laksanakan di Masjid Rahmatan lil ‘Alamin, sebuah masjid yang dibangun dari kebersamaan, dari langkah-langkah kecil yang kami rajut sejak awal hingga kini berdiri megah dan menjadi tempat umat menautkan diri dalam ibadah. Di ruang yang kami bangun bersama itulah, kami menyebut nama-nama yang pernah hidup bersama kami: Sinar Alam, Andhika, dan Pak Adnan. Nama-nama itu tidak sekadar dikenang, tetapi dihadirkan kembali dalam doa, dalam cerita, dalam getaran batin yang masih terasa dekat meski jasad mereka telah lebih dahulu kembali.
Saya teringat Sinar Alam, yang pernah memimpin lembaga ini dengan kesungguhan yang tidak banyak bicara, tetapi terasa dalam setiap kebijakan dan keteladanan. Ia tidak hanya bekerja, ia membangun, dan merawat. Ia tidak hanya memimpin, ia juga menghidupkan. Andhika dan Pak Adnan pun demikian mereka adalah bagian dari denyut awal lembaga ini, ketika segalanya masih rapuh, ketika harapan lebih besar daripada fasilitas yang kami miliki. Mereka hadir bukan ketika segalanya telah mapan, tetapi justru karena mereka percaya bahwa sesuatu yang kecil ini bisa tumbuh seperti masjid ini, yang dulu hanya niat dan tekad, kini menjadi ruang sujud yang mempersatukan banyak hati.
Pengajian hari ini, ritual mengenang. Ia adalah ikhtiar untuk menjaga hubungan yang tidak selesai oleh kematian. Sebab saya percaya, kematian tidak pernah benar-benar memutus silaturahmi. Ia hanya mengubah bentuknya. Dari pertemuan menjadi kenangan. Dari percakapan menjadi doa. Dari kehadiran fisik menjadi kehadiran batin.

Ziarah di Makam Bapak Sinar Alam. Foto: Dokumen Pribadi
Ketika kami bersama-sama berziarah ke makam bapak Sinar Alam, ada kesadaran yang menguat dalam diri saya: bahwa yang kita bangun selama ini bukan hanya lembaga, tetapi juga jejak-jejak kemanusiaan. Kita menanam kebersamaan, dan kebersamaan itu tidak hilang ketika seseorang pergi. Ia justru menemukan bentuknya yang lebih dalam dalam ingatan yang setia, dalam doa yang tidak putus, dalam komitmen untuk melanjutkan nilai-nilai yang pernah diperjuangkan bersama.
Kebersamaan itu, hari ini, yang kami rawat bukan hanya di antara kami yang masih hidup, tetapi juga dengan keluarga yang ditinggalkan. Kami ingin memastikan bahwa hubungan ini tidak berhenti pada individu, tetapi berlanjut sebagai jaringan kasih yang lebih luas, mereka yang telah pergi, meninggalkan kenangan, dan juga tanggung jawab moral bagi kita yang masih hidup: untuk menjaga, untuk menghormati, dan untuk melanjutkan.
Saya sering berpikir, apa sebenarnya yang tersisa dari hidup seseorang? Bukan jabatan, bukan pula prestasi yang tercatat dalam laporan. Yang tersisa adalah jejak kebaikan yang hidup dalam ingatan orang lain. Cara seseorang memperlakukan sesamanya. Ketulusan yang mungkin dulu dianggap biasa, tetapi kini terasa begitu berharga.
Kematian, dalam diamnya, adalah nasihat yang paling jujur. Ia tidak berbicara, tetapi mengingatkan. Bahwa waktu kita terbatas. Bahwa kesempatan untuk berbuat baik tidak selalu datang dua kali. Bahwa apa yang kita bangun hari ini, suatu saat akan kita tinggalkan dan yang akan bertahan hanyalah makna dari apa yang kita lakukan.
Dari kematian, kita belajar tentang kesederhanaan. Bahwa pada akhirnya, semua yang rumit akan dilucuti. Dari kematian, kita belajar tentang keikhlasan. Bahwa tidak semua yang kita lakukan harus diingat orang, tetapi cukup dicatat oleh Yang Maha Mengetahui. Dari kematian, kita belajar tentang pentingnya menjaga hubungan karena di situlah hidup menemukan nilainya.
Hari ini, di Masjid Rahmatan lil ‘Alamin yang menjadi saksi perjalanan kami, pengajian ini ruang doa, tetapi juga ruang untuk menata kembali hati. Untuk mengingat bahwa perjalanan ini tidak sendiri. Bahwa ada mereka yang pernah berjalan bersama kita, yang kini telah sampai lebih dulu. Dan kita, yang masih berjalan, memiliki tanggung jawab untuk menjadikan perjalanan ini lebih bermakna.
Kami mendoakan mereka, agar diberi kelapangan di alam kuburnya, diterangi jalannya, dan diterima segala amal baiknya. Tetapi sesungguhnya, dalam doa itu, kami juga sedang menasihati diri sendiri. Bahwa suatu saat, kita pun akan berada di titik yang sama. Dan ketika itu tiba, yang kita harapkan bukanlah panjangnya usia, tetapi baiknya jejak yang kita tinggalkan.
Pada akhirnya, kebersamaan tidak diukur dari lamanya kita berjalan bersama, tetapi dari seberapa dalam kita saling meninggalkan makna. Dan kematian, sejatinya bukanlah perpisahan yang memutus, melainkan panggilan untuk menguatkan ingatan, memperpanjang doa, dan menjaga silaturahmi dalam bentuk yang lebih sunyi namun lebih abadi. Dari mereka yang telah pergi, kita belajar satu hal: bahwa hidup yang bermartabat adalah hidup yang terus menghubungkan meski jarak telah menjadi tak terhingga.
Majene, Maret 2026

March 31, 2026 at 11:27 pm
Sahril Bakri
Alhamdulillah masi bisa bersama dlm wujud silaturrahmi