KURMA YANG TAK PERNAH CUKUP

Pentigraf
KURMA YANG TAK PERNAH CUKUP
Oleh: Telly D.
Ramadan di rumah kami selalu dimulai dengan sesuatu yang sederhana: sepiring kurma di tengah meja. Tidak pernah banyak, bahkan sering kali terasa kurang. Ibu akan menghitungnya pelan, memastikan setiap orang mendapat bagian. Kami anak-anak memandang piring itu seperti memandang harta kecil yang harus dibagi dengan hati-hati. Kadang ada yang diam-diam mengambil lebih dulu sebelum azan, kadang ada yang pura-pura tidak menghitung agar bisa mendapat satu lebih banyak. Ibu hanya menggeleng sambil tersenyum, seolah semua kelicikan kecil kami sudah ia kenal bahkan sebelum kami melakukannya.
Suatu sore, tepat menjelang berbuka, seorang tamu datang tanpa kabar. Piring kurma yang tadi saja sudah terasa sedikit kini tampak semakin menyusut. Ibu tidak terlihat bingung. Ia mengambil pisau kecil, memotong beberapa kurma menjadi dua, lalu menyusunnya kembali dengan rapi di piring. Aneh sekali, piring itu tampak penuh lagi. Kami saling pandang dan hampir tertawa melihat siasat kecil itu. Namun diam-diam kami belajar sesuatu yang lebih besar dari sekadar membagi buah manis.
Ketika azan Magrib akhirnya terdengar, kami mengambil potongan kurma itu dengan hati ringan. Ibu memandang piring yang hampir kosong dengan wajah tenang, lalu berkata pelan, “Kalau kita mau berbagi meski sedikit, Tuhan pasti ikut tersenyum.”
Makassar, Ramadan 2026

Leave a Reply