Antara Negara dan Anak: Siapa yang Lebih Berhak atas Masa Depan?

Antara Negara dan Anak: Siapa yang Lebih Berhak atas Masa Depan?
Refleksi: Telly Dachlan
Sebuah video singkat bisa berubah menjadi pengadilan publik. Kalimat yang terucap beberapa detik mampu menyalakan api nasionalisme, kekecewaan, bahkan kemarahan. Di tengah pusaran itu, ada satu isu yang lebih dalam daripada sekadar viral: hubungan antara negara dan keluarga. Antara kewajiban dan kasih sayang. Antara kontrak dan nurani.
Beasiswa negara seperti LPDP lahir dari satu gagasan mulia: rakyat patungan untuk mencetak manusia unggul yang kelak kembali membangun negeri. Di dalamnya ada uang pajak, ada harapan kolektif, ada doa-doa orang kecil yang tak pernah ke luar negeri tetapi ingin anak bangsanya menembus dunia. Maka wajar jika publik merasa memiliki, merasa berhak berharap.
Namun di sisi lain, ada orang tua. Ada ayah dan ibu yang melihat anaknya bukan sebagai simbol kebangsaan, melainkan sebagai masa depan yang ingin dijaga. Dunia hari ini tidak lagi berbatas tegas. Pendidikan, pekerjaan, dan peluang tersebar lintas negara. Jika seorang orang tua merasa ada peluang yang lebih aman, lebih stabil, atau lebih luas bagi anaknya di tempat lain, apakah itu otomatis berarti pengkhianatan?
Di titik ini, persoalan menjadi lebih rumit daripada sekadar “utang pada negara.” Secara hukum, beasiswa adalah kontrak. Jika kontrak dipenuhi, kembali bekerja, atau mengembalikan dana maka kewajiban legal selesai. Tetapi publik sering bergerak di wilayah moral, bukan sekadar hukum. Ada ekspektasi tak tertulis: bahwa penerima beasiswa bukan hanya pulang, tetapi juga mencintai; bukan hanya bekerja, tetapi juga merasa bangga.
Masalahnya, cinta tanah air tidak selalu seragam bentuknya.
Sebagian orang mencintai dengan tinggal dan membangun dari dalam. Sebagian lagi mencintai dengan menjadi diaspora, membangun jaringan global, mengirim ilmu, modal, bahkan reputasi bagi negeri. Di era global, identitas menjadi lebih cair. Seseorang bisa tinggal di London dan tetap berdenyut untuk Indonesia. Namun publik sering kali masih mengukur loyalitas dengan jarak geografis.
Lalu ada pertanyaan yang lebih sunyi: mengapa seseorang merasa masa depan anaknya lebih baik di luar negeri? Apakah semata-mata ambisi kelas menengah global? Ataukah ada kegelisahan terhadap sistem tentang stabilitas, kualitas pendidikan, atau peluang meritokrasi? Jika banyak orang tua memimpikan paspor asing bagi anaknya, barangkali itu bukan hanya soal individualisme, tetapi juga cermin dari ketidakpercayaan yang belum selesai kita jawab bersama.
Tentu saja, ada sisi etika yang tak bisa diabaikan. Dana beasiswa bukan uang privat. Ia lahir dari solidaritas sosial. Maka sensitivitas menjadi penting. Ucapan yang terdengar meremehkan identitas kebangsaan bisa melukai banyak orang yang merasa berkorban untuk negara. Kadang yang menyulut kemarahan bukan pilihan hidupnya, melainkan narasinya.
Di sinilah kita melihat pertemuan antara dua cinta: cinta kepada negara dan cinta kepada anak. Negara meminta kontribusi. Orang tua memikirkan perlindungan. Keduanya sah. Keduanya manusiawi.
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang salah. Pertanyaannya: bagaimana kita memaknai nasionalisme di abad ke-21? Apakah nasionalisme berarti semua keputusan keluarga harus tunduk pada ekspektasi kolektif? Ataukah nasionalisme bisa berarti membesarkan anak sebaik mungkin di mana pun ia tumbuh dan tetap mengajarkannya akar?
Mungkin yang perlu kita renungkan adalah ini: bangsa yang percaya diri tidak takut pada mobilitas. Bangsa yang kuat tidak gentar pada diaspora. Dan keluarga yang bijak tidak menanamkan kebencian pada tanah kelahiran, meski memilih jalan berbeda.
Isu ini pada akhirnya bukan tentang paspor. Ia tentang rasa memiliki. Tentang bagaimana negara dan warga saling mempercayai. Ketika kepercayaan itu kuat, orang tak perlu disuruh pulang, mereka akan kembali, atau setidaknya tetap terhubung.
Di antara sorotan dan kecaman, mungkin yang kita butuhkan bukan penghakiman, melainkan percakapan yang lebih dewasa: bahwa masa depan anak dan masa depan bangsa seharusnya tidak dipertentangkan. Karena bangsa pun, pada akhirnya, dibangun oleh anak-anak yang tumbuh dengan rasa aman di mana pun mereka berdiri.
Makassar. Februari 2026

February 26, 2026 at 1:12 am
Mukminin
mantab