Mahkota di Usia Enam Puluh Enam

Mahkota di Usia Enam Puluh Enam
Oleh: Telly D.
Enam puluh enam tahun bukan sekadar angka yang bertambah, melainkan sebuah puncak kecil tempat saya berdiri memandang ke belakang dengan mata basah dan ke depan dengan hati yang lapang. Di usia ini, rumah terasa lebih sunyi, langkah lebih pelan, namun jiwa justru lebih nyaring berbicara. Anak-anak telah terbang meninggalkan sarang, dan saya yang dulu menjadi pusat dunia mereka kini belajar menjadi langit yang luas: cukup jauh untuk tidak mengikat, cukup dekat untuk selalu menaungi.
Pagi ini saya tersenyum kepada cermin dan berbisik pelan, “Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri.” Kalimat sederhana itu terasa hangat. Saya tidak lagi merayakan dengan gemuruh, tetapi dengan penerimaan. Dengan pelukan pada diri yang telah melewati badai, menapaki tanjakan, dan tetap berdiri hingga hari ini.
Dulu rumah ini riuh. Ada suara pintu ditutup keras, tawa yang saling menyahut, piring yang beradu, kelakar dan gelak kecil yang selalu berakhir dengan pelukan. Saya sering lelah, sering ingin sejenak berdiam, tetapi kini justru keramaian itu yang saya rindukan. Meja makan yang dulu penuh kini lebih sering lengang. Kursi-kursi tersusun rapi, seolah menunggu tamu yang datangnya hanya pada hari-hari tertentu. Ternyata, membesarkan anak bukan hanya tentang mendidik dan mencukupi; itu juga tentang belajar merelakan.
Namun hidup tidak pernah benar-benar mengambil tanpa memberi kembali dalam bentuk lain. Kini saya telah menjadi seorang nenek. Seorang cucu kecil telah hadir mempesona hati saya dengan senyumnya yang polos, dengan tangan mungil yang menggenggam jari saya seakan tak ingin lepas. Dan sebentar lagi, jika Tuhan mengizinkan, cucu itu akan menjadi dua. Hati saya seperti diperluas cukup untuk menampung cinta yang tak pernah habis, hanya berganti generasi.
Hari ini telepon berdering sejak pagi. Suara anak-anak saya terdengar di seberang sana, hangat dan penuh rindu. “Selamat ulang tahun, Mama… sehat selalu ya.” Ada tawa cucu yang belum fasih berbicara, namun saya tahu ia ikut dalam ucapan itu. Bahkan dari jarak yang memisahkan, saya bisa merasakan pelukan mereka sampai ke dada. Di samping saya, suami tersenyum dan menggenggam tangan saya lebih lama dari biasanya. “Selamat ulang tahun,” katanya pelan, seperti doa yang tidak ingin putus. Dalam sederhana itu, saya merasa dirayakan.
Saya bersyukur. Sungguh. Anak-anak telah tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan berkeluarga. Mereka telah menapaki jalan hidupnya tanpa lagi menggenggam ujung baju saya. Bukankah itu yang sejak dulu saya doakan? Setiap malam saya memohon agar mereka menjadi manusia yang baik, mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Doa itu dikabulkan. Namun rupanya, setiap doa yang terkabul membawa konsekuensi: saya harus belajar hidup tanpa kehadiran mereka setiap hari.
Beginilah bayaran dari kasih sayang. Kita menanam, menyiram, menjaga dari panas dan hujan, lalu suatu hari pohon itu tumbuh tinggi dan akarnya tak lagi membutuhkan tanah yang sama. Ia mencari matahari di tempat lain. Dan saya, tanah itu, tetap di sini diam, setia, menerima bahwa tugas saya memang untuk menguatkan, bukan memiliki.
Kadang rindu datang seperti angin sore, tiba-tiba dan membuat mata basah. Saya merindukan suara “Mama” yang dipanggil dari dapur. Namun ketika cucu saya tertawa, rindu itu berubah menjadi cahaya baru. Di matanya yang jernih, saya seperti melihat masa lalu dan masa depan berpegangan tangan. Dan ketika nanti dua suara kecil memanggil saya “Nenek,” mungkin rumah ini akan kembali riuh bukan seperti dulu, tetapi dengan warna yang berbeda.
Hari ini, saya menerima semua ucapan dengan hati yang penuh. Dari anak-anak yang saya lahirkan dengan doa, dari cucu-cucu yang memperpanjang cinta saya, dan dari suami yang tetap setia berjalan di samping saya. Saya kembali berbisik pada diri sendiri, “Terima kasih sudah bertahan. Selamat ulang tahun.”
Jika sunyi adalah mahkota usia ini, maka saya akan memakainya dengan anggun. Karena cinta tidak pernah benar-benar pergi, ia pulang dalam doa, tumbuh dalam cucu-cucu, dan menetap hangat di antara dua tangan yang masih saling menggenggam.
Makassar, 23 Februari 2026

February 26, 2026 at 12:14 pm
Astuti Mudjono
Barakallah fii umrik
Sehat semangat dan terus berkarya.
February 25, 2026 at 3:12 pm
Sumintarsih
Cinta tidak pernah benar-benar pergi.
Selamat memasuki episode baru dengan bertambahnya usia, Bunda….
Salam sehat dan bahagia selalu.
Amin…..
February 24, 2026 at 8:34 am
Nasruddin Nawawi
Yaumil milad Daeng Telly, barakallahu fii umrik, fii ilmi, fii rizki…kiranya rakhmat dan lindungan Allah SWT tetap tercurah buat kita dan keluarga…Semoga bahagia senantiasa melingkupi Daeng Telly sekeluarga Aamiin ya rabbal Aalamiin 🤲🤲🤲🤲🤲🎉🎉🎉🎉
February 24, 2026 at 4:30 am
Mukminin
Selamat Ulang Tahun Bu Telly smg sehat panjang umur dan terus menginspirasi