LAPAR YANG TAK SAMA

Pentigraf
LAPAR YANG TAK SAMA
Oleh: Telly D.
Hari pertama Ramadan, Rania sibuk memotret dan mengunggah dirinya sementara belanja untuk berbuka, es dawet, kurma impor, dan pastel keemasan, kemudian mengeluh lapar di mobil yang ber-AC sambil menghitung menit menuju azan, merasa puas telah berbagi menahan haus seharian dan yakin perjuangannya layak dipuji.
Sore itu mobilnya mogok di gang sempit beberapa menit sebelum magrib, dan ketika ia gelisah karena takut terlambat tiba di rumah membatalkan puasa, seorang anak kecil dari rumah reyot di depannya keluar membawa segelas air putih dan dua potong singkong rebus, menyodorkannya dengan tangan kurus sambil berkata pelan bahwa ia boleh berbuka lebih dulu.
Saat Rania bertanya apakah mereka sudah menyiapkan makanan, anak itu tersenyum dan menjawab bahwa ibunya sakit dan mereka belum memasak apa pun hari itu, dan tepat ketika azan berkumandang Rania menyadari bahwa yang selama ini ia pamerkan sebagai lapar ternyata hanya jeda menuju kenyang, sedangkan di hadapannya berdiri makna puasa yang sesungguhnya: memberi meski tak punya.
Makassar, Ramadan 2026

February 20, 2026 at 5:53 am
Mukminin
Matoh.YES