SEPATU

Pentigraf
SEPATU
Oleh: Telly D.
Di dekat pintu tenda, sepasang sepatu anak diletakkan rapi, selalu menghadap ke luar. Setiap pagi seorang lelaki membersihkannya dari sisa lumpur dengan lap kain basah. Ia melakukannya dengan hati-hati, seperti takut melukai sesuatu yang masih hidup. Orang-orang berkata ia menunggu anaknya pulang berjalan kaki dari desa sebelah.
Siang hari, ketika panas membuat tenda pengap, lelaki itu duduk di samping sepatu-sepatu itu. Ia bercerita bahwa anaknya tak suka berjalan tanpa alas. “Kakinya gampang lecet,” katanya sambil tersenyum. Ia meminta sepatu itu tetap di situ, jangan dipindahkan, agar mudah ditemukan ketika waktu itu tiba.
Malamnya hujan turun lagi. Lelaki itu memindahkan sepatu ke dalam tenda, menutupinya dengan kain, “untuk dipakaikan.” Saat itu aku tahu, ia tak lagi menunggu langkah yang datang, melainkan tubuh yang akan diantar.
Makassar, 14 Desember 2025

Leave a Reply