Empat Puluh Tahun

Empat Puluh Tahun
Oleh: Telly D.
Pagi ini, ketika cahaya pertama menyelinap lewat tirai, aku duduk memandang tahun-tahun yang berbaris seperti jejak kaki di pasir. Empat puluh tahun. Angka yang terasa seperti dongeng ketika dulu kami baru mulai berjalan bersama. Kini, dongeng itu berubah menjadi kenyataan yang penuh goresan kecil, penuh perbaikan, penuh kasih yang tak pernah selesai disulam ulang.
Suamiku masuk pelan, duduk di sebelahku. “Kau tahu hari ini hari apa?” ia bertanya sambil tersenyum, seolah menguji apakah ingatanku masih setia. “Aku tidak lupa,” jawabku. “Empat puluh tahun perkawinan kita… siapa yang mengira kita bisa sejauh ini?”
Ia tertawa kecil, tawa yang dulu riuh, kini lembut seperti angin senja. “Aku tidak pernah memikirkan seberapa jauh. Aku hanya tahu aku ingin terus berjalan bersamamu.”
Aku menatapnya lama. Di wajahnya ada garis-garis waktu, tapi di matanya masih ada cahaya yang sama cahaya lelaki penyayang yang sejak awal percaya pada cinta dan kesetiaan, bukan sebagai kata-kata, melainkan sebagai jalan hidup.
“Kau masih percaya itu?” tanyaku. “Cinta, kesetiaan, semua itu? Setelah segala badai?” Ia mengangguk tanpa ragu. “Justru karena badai itulah aku percaya. Kalau kita bisa bertahan, berarti kita memang dipilih untuk saling menjaga.” Kata-katanya jatuh seperti doa yang lama tersimpan.
Aku teringat malam-malam ketika kami saling diam karena lelah menyusun kata. Teringat pertengkaran yang membuat mulut ditutup. Teringat langkah-langkah jauh yang sebenarnya hanya ingin ditemukan kembali. Tetapi dalam semua itu, ada satu hal yang tidak pernah hilang: tanggung jawabnya. Ia selalu kembali. Selalu hadir. Selalu memastikan hidup kami berjalan, bahkan ketika hatinya sendiri mungkin sedang rapuh.
“Aku belum pernah mengucapkan ini padamu,” kataku pelan. “Kau membuatku merasa aman. Dari dulu. Dari waktu kita masih tidak punya apa-apa, sampai sekarang saat kita hanya butuh kebersamaan yang tenang.”
Ia menunduk, seperti menimbang kalimat yang ingin ia beri. “Aku tidak sempurna,” ujarnya. “Tapi aku selalu ingin kau tahu, aku memilihmu setiap hari. Bahkan di hari-hari ketika aku sulit mencintai diriku sendiri.”
Ada jeda. Jeda yang manis. Jeda yang membuatku sadar bahwa empat puluh tahun bukan menghilangkan romantisme ia hanya membuatnya lebih tenang, lebih dalam, lebih nyata.
“Tahukah kau,” kataku sambil tersenyum, “kadang aku merasa kita tidak lagi berlari seperti dulu. Kita hanya berjalan pelan, tapi selalu berdampingan.”
“Karena berlari membuat kita cepat lelah,” jawabnya. “Tapi berjalan membuat kita bisa saling menunggu.”
Kami tertawa, tawa kecil yang seperti mengetuk pintu kenangan. Hangat. Tidak berlebihan. Tapi cukup untuk mengisi ruang.
Aku menatap tangannya. Tangan yang dulu menggenggamku dengan gugup, kini menggenggam dengan kepastian yang matang. “Terima kasih,” bisikku. “Untuk empat puluh tahun ini.”
Ia menggenggam balik. “Terima kasih juga. Untuk tetap tinggal. Untuk tetap percaya.”
Di luar, matahari naik perlahan, seolah menghormati percakapan dua orang yang telah melewati begitu banyak hal untuk bisa duduk berdampingan pagi ini.
Aku menutup renungan ini dalam hati: empat puluh tahun bukan pencapaian. Ia adalah kesediaan untuk terus memilih satu sama lain, meski waktu berubah, meski tubuh berubah, meski hidup menguji dari berbagai arah.
Dan hari ini, dengan dialog kecil yang menghangatkan pagi, aku tahu: cinta kami tidak pernah pergi. Ia hanya tumbuh. Pelan, pasti, dan penuh syukur.
Makassar, 14 November 2025

November 26, 2025 at 3:13 am
Amelia1263
https://shorturl.fm/Xcqjl