KUDETA HATI

Pentigraf
KUDETA HATI
Oleh: Telly D.
Lusuh dan tak terawat bukan alasan untuk tidak jatuh cinta. Di warung yang selalu beraroma kopi dan pisang goreng, Bu Siti sering menutup warung lebih lambat dari biasanya, seolah menunggu sesuatu yang tak ia akui. Suatu sore, pemuda itu lewat dengan senyum miring yang anehnya mengingatkannya pada dua wajah sekaligus mantan suaminya yang pergi tanpa pamit, dan kekasih masa SMA yang tak pernah kembali. Tangannya, yang tadi cekatan meracik kopi, tiba-tiba kikuk saat menata kerupuk.
Hari-hari berikutnya, ia mulai menaruh galon kosong sedikit lebih dekat ke pintu. Setiap suara langkah membuatnya merapikan rambut, lalu berpura-pura tak peduli ketika pemuda itu muncul sambil mengangkat galon dengan gaya seolah dunia mengenalnya. “Terima kasih Bu,” katanya selalu dengan nada yang terlalu manis untuk orang asing. Para pelanggan bisa membaca gelombang kecil yang merambat dalam diri Bu Siti, nyaris seperti harapan yang bangkit dari kesepian.
Kudeta itu pecah ketika Pak RT datang sambil terkekeh. “Bu, itu anak pengangguran dari seberang gang. Suka numpang makan di mana saja.” Ruang warung mendadak sempit; sendok yang ia genggam bergetar, menumpahkan kopi yang tiba-tiba terasa pahit. Dalam hati yang memar, Bu Siti sadar betapa rapuhnya dirinya, hanya karena satu senyum, ia hampir percayakan seluruh hidupnya pada seorang yang bahkan tak mampu mengurus dirinya sendiri.
Makassar, 16 November 2025

November 19, 2025 at 11:57 am
Gwen263
https://shorturl.fm/T79zB
November 18, 2025 at 4:15 am
Anderson2521
https://shorturl.fm/JC2BN