PENUNGGU BAYANGAN

Pentigraf
PENUNGGU BAYANGAN
Oleh: Telly D.
Malam itu, sang Maestro Dalang duduk di belakang kelir untuk terakhir kalinya. Pendapa sunyi, hanya bunyi jangkrik bersahutan di luar dan nyala bléncong yang bergetar di ujung sumbu. Di depannya, tokoh-tokoh wayang tertata rapi, seolah menunggu perintah untuk hidup kembali. Ia mengangkat satu, lalu menggerakkannya perlahan, tapi bukan untuk penonton malam itu, ia mendalang hanya untuk dirinya sendiri.
Tangannya menari di udara, memanggil seluruh kenangan yang pernah ia mainkan. Suara gamelan seakan berdentang dari dalam ingatannya, dan setiap bayangan di kelir menjadi pantulan hidupnya sendiri. Ia memainkan lakon yang belum pernah disampaikan kepada siapa pun, lakon yang tak ada di naskah mana pun: kisah seorang dalang yang harus menutup pertunjukan dunia dengan tenang. Ketika bléncong mulai redup, ia tersenyum tipis, seolah mengerti akhir setiap kisah memang harus diterima dengan kepala tunduk.
Pagi harinya, seorang murid menemukannya di posisi yang sama, tubuhnya condong ke depan, tangan masih menggenggam tokoh Semar. Kelir masih berdiri, dan bléncong masih menyala redup. Di atas kotak wayang tertulis dengan arang: “Penunggu Bayangan.” Dan di balik layar itu, sang dalang masih mendalang bukan untuk manusia, tapi untuk keabadian.
Makassar, 24 Oktober 2025

Leave a Reply