Bahasa adalah Alat Sihir Penulis

Bahasa adalah Alat Sihir Penulis
Oleh: Telly D.*)
Saya pernah berulang kali merasa kalah di depan tulisan saya sendiri. Setiap kali menatap layar, kata-kata yang lahir tampak kaku, dingin, dan kering. Kalimat-kalimat itu bagaikan kerangka tanpa daging: lurus, tetapi tak punya daya hidup. Rasanya, saya hanya menyalin fakta, tanpa memberi napas di dalamnya. Saya sering mengeluh dalam hati, “Mengapa tulisan saya miskin? Apakah saya memang tak bisa menulis dengan indah?”
Keraguan itu semakin besar karena usia saya tidak lagi muda. Belajar menulis di atas usia enam puluh seperti mencoba menanam bunga di tanah yang sudah lama keras. Saya takut akar kata-kata tidak akan tumbuh. Tapi justru di tengah keraguan itu, dalam proses belajar saya dipertemukan dengan seorang guru. Ia bukan sekadar pengajar, melainkan penulis kreatif sekaligus dosen sastra, Much Khoiri namanya. Kalimat pertamanya yang membekas di benak saya adalah:
“Bahasa adalah alat sihir penulis.”
Saya mendengarnya bukan di ruang kelas, melainkan lewat WhatsApp. Obrolan sederhana di layar kecil itu menjadi ruang belajar saya, ruang di mana teori menulis dan kehidupan saya berjumpa.
Hari itu saya menulis kepadanya:
“Tulisan saya terasa kering. Tidak indah. Seperti laporan biasa.”
Balasannya datang beberapa menit kemudian:
“Indah itu bisa dipelajari. Sisipkan metafora, mainkan diksi, gunakan majas. Bahasa itu punya sayap. Biarkan ia terbang.”
Saya terdiam. Kata-kata itu sederhana, tetapi menggugah. Saya mencoba menuliskan ulang kalimat polos saya: “Matahari terbit di timur.” Guru lalu menantang saya untuk mengubahnya. Saya berpikir sejenak, lalu mengetik:
“Matahari pagi adalah senyum pertama hari.”
Balasannya hanya sebuah emoji jempol, tapi bagi saya itu terasa seperti penghargaan besar.
“Nah, itu! Lihat bedanya? Sederhana, tapi hangat. Itulah sihir bahasa. Ia membuat sesuatu yang biasa jadi menyentuh.”
Sejak itu saya paham apa yang dimaksud dengan “sihir.” Menurut I.A. Richards dalam The Philosophy of Rhetoric (1936), metafora bukan sekadar perhiasan, tetapi cara berpikir yang menghubungkan sesuatu dengan hal lain. Dari situlah imajinasi tumbuh. Dan benar, metafora kecil yang saya sisipkan membuat kalimat saya berbeda rasa: bukan lagi laporan dingin, tetapi sapaan hangat.
Latihan itu berlanjut. Setiap hari saya mencoba mengubah kalimat kaku menjadi kalimat yang lebih hidup. Tentang hujan, saya tidak lagi menulis: “Air jatuh dari langit.” Saya mencoba: “Hujan adalah musik lembut yang dimainkan bumi.” Tentang pohon, saya menulis: “Pohon adalah arsip rahasia angin.” Setiap kali, guru saya membalas dengan semangat kadang catatan kecil, kadang hanya satu kata: “Bagus!”
Saya merasa seperti anak kecil yang baru bisa merangkai manik-manik pertama. Saya teringat pandangan Aristoteles dalam Rhetoric, bahwa bahasa tidak hanya menyampaikan logika (logos), tetapi juga menggerakkan emosi (pathos). Itulah yang perlahan saya rasakan: tulisan saya bukan lagi sekadar logis, tetapi mulai mengundang rasa.
Namun kegelisahan saya belum berhenti. Suatu kali saya bertanya lagi:
“Tapi bagaimana dengan tulisan akademik, Pak? Bukankah itu harus kaku, formal, dan dingin?”
Balasannya panjang kali ini:
“Tidak juga. Akademik bisa tetap hangat, asal bahasanya jernih dan manusiawi. Sihir bahasa bukan berarti berbunga-bunga, tetapi memberi jiwa pada teks. Esai, opini, bahkan artikel ilmiah bisa ditulis dengan aliran yang hidup, tidak kaku. Ingat, pembaca juga manusia, bukan mesin.”
Kata-katanya membuat saya terhenyak. Saya jadi teringat pandangan Ken Hyland (2005) yang menekankan bahwa teks akademik selalu melibatkan metadiscourse yaitu hubungan antara penulis dan pembaca. Artinya, tulisan ilmiah pun bisa bersahabat, asalkan bahasanya jernih dan komunikatif.
Sejak itu, saya mulai berani bereksperimen. Ketika menulis esai reflektif tentang belajar menulis di usia lanjut, saya menambahkan metafora kecil: “Belajar menulis di usia senja seperti menyalakan lentera ketika hari hampir gelap. Ia mungkin tak mencerahkan dunia, tapi cukup untuk menerangi langkah sendiri.”
Saat membacanya ulang, saya merasa tulisan itu berbeda: bukan sekadar laporan, tetapi kisah yang hidup. Beberapa teman bahkan menulis komentar, “Tulisanmu membuatku merasa dekat, tidak seperti membaca teori kaku.” Saya hampir menitikkan air mata, karena sadar sihir itu nyata.
Pelajaran itu akhirnya mengubah cara pandang saya. Donald Murray (1985) pernah mengatakan bahwa menulis adalah proses menemukan makna. Kini saya mengerti: sihir bahasa bukan hanya soal indahnya metafora, tetapi keberanian memberi jiwa pada teks, entah itu puisi, cerpen, esai, maupun artikel akademik.
Menulis bagi saya kini bukan lagi sekadar menyusun kata, tetapi menyusun rasa. Roland Barthes (1977) menyebut bahasa sebagai jaringan tanda yang membuka banyak lapisan makna. Dan saya, di usia lebih dari enam puluh, akhirnya menemukan lapisan itu bukan di ruang kuliah, melainkan lewat percakapan WhatsApp yang sederhana.
Kini setiap kali menulis, saya mengingat kalimat guru saya sebagai mantra:
“Bahasa adalah alat sihir penulis.”
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung teori sekaligus pengalaman. Ia mengingatkan saya bahwa kata-kata bukan hanya alat tukar informasi, tetapi juga jembatan antara hati penulis dan hati pembaca.
Dan setiap pagi, ketika saya membuka layar kosong, saya percaya: setiap kata masih punya sihirnya sendiri. Terima kasih guruku.
Makassar, 4 Oktober 2025
______________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025)

October 21, 2025 at 8:04 pm
Darren1430
https://shorturl.fm/qbept
October 7, 2025 at 2:50 pm
Angelo714
https://shorturl.fm/ivt30