Kilatan Mata di Lapak Literasi

Kilatan Mata di Lapak Literasi
Oleh: Telly D.
Kunjungan saya ke lapak literasi BBPMP di bawah jalan layang Andi Pangerang Pettarani malam itu meninggalkan kenangan yang sangat berkesan. Di tengah deru kendaraan yang bersahut-sahutan, di sela aroma kopi hangat dan gorengan yang mengepul, saya mendapat kejutan kecil yang justru menorehkan makna besar. Di antara deretan buku yang tersusun rapi, saya melihat Perahu Perpustakaan, buku pentigraf terbaru saya, hadir berdampingan dengan beberapa karya komunitas Rumah Virus Literasi (RVL) rumah tempat saya belajar menulis, menata kata, sekaligus melatih keberanian untuk dipercaya sebagai penulis.
Suasana lapak malam itu begitu hidup. Mahasiswa berdatangan, sebagian berhenti karena penasaran, sebagian memang sengaja mencari ruang baca. Lampu-lampu jalan berpendar keemasan, menimpa halaman-halaman buku yang terbuka. Ada percakapan pelan di sudut meja, ada tawa kecil yang menyela kesunyian membaca. Udara malam Makassar yang kering justru membuat suasana semakin akrab.
Saya melangkah mendekati seorang perempuan yang sedang asyik membuka buku. Beliau adalah Ibu Jun, seorang penjual nasi ayam suwir yang berjualan di sekitar tempat itu. Tatapannya terhenti pada sampul buku Perahu Perpustakaan. Ia membalik halaman demi halaman, lalu tiba-tiba matanya memancarkan kilatan aneh: antara tak percaya dan kagum. Saat menyadari penulis buku itu sedang berdiri di hadapannya, saya bisa menangkap cahaya ragu sekaligus hormat di sorot matanya. Itu hanya sekejap, namun cukup untuk membuat dada saya bergetar.
Ibu Jun memastikan kebenarannya dengan cara yang polos tapi menyentuh. Ia membuka lembar profil penulis di bagian belakang, menatap foto itu, lalu menoleh pada wajah saya. Seperti sedang mencocokkan dua potongan puzzle: gambar di kertas dan sosok di depannya. Setelah yakin, ia tersenyum lebar, lalu dengan tangan sedikit gemetar menyerahkan telepon genggamnya. “Boleh kita berfoto, Bu?” katanya lirih. Saya mengangguk. Kami pun berfoto bersama di bawah cahaya lampu jalan yang temaram. Momen sederhana itu membuat saya haru sampai menggigil.

Penulis dan Ibu Jun Penjual Nasi Ayam Suwir. Foto: Dokumen Pribadi
Saya jadi teringat perjalanan panjang saya. Betapa banyak orang meragukan kemampuan menulis saya. Bahkan di lingkungan keluarga, saya lebih sering dipanggil “paccarita,” tukang cerita daripada penulis. Mereka menganggap cerita saya hanya sebatas obrolan, bukan karya. Padahal, untuk sampai pada titik ini, saya harus memupuk keyakinan yang berulang kali goyah.

Pengunjung yang Berminat Membaca Buku. Foto: Dokumen Pribadi
Jika mau jujur, hanya ada tiga orang yang awalnya percaya penuh bahkan kadang berlebihan pada kemampuan saya menulis: kedua orang tua saya, suami saya, dan guru menulis saya, Much. Khoiri. Mereka yang paling tahu bagaimana ketakutan dan rasa rendah diri menghantui langkah awal saya. Saya menulis dengan menggunakan nama pena Telly D., semata karena tidak berani membawa nama besar Daswatia Astuty. Saya takut karya saya dianggap remeh, takut menodai kehormatan nama yang telah saya bangun dengan baik sebelumnya. Yang penulis itu Telly D. bukan Daswatia Atuty kilahku selalu.

Pengunjung Memilih Buku untuk Dibaca. Foto: Dokumen Pribadi
Namun Much. Khoiri dengan sabar membimbing saya. Bukan hanya soal bahasa tulis yang tertib aturan, bukan sekadar mengajarkan nalar yang runtut atau pilihan diksi yang tepat. Ia menuntun saya untuk berani menggunakan metafora, analogi, dan simbolik yang memberi napas pada tulisan. Yang paling sulit justru membangun keyakinan: rasa percaya diri bahwa tulisan saya layak dibaca. Saya ingat betapa canggungnya saat pertama kali karya saya dibicarakan di forum. Rasa malu hampir menenggelamkan saya. Tetapi perlahan, melalui bimbingan dan kesempatan menulis bersama, saya akhirnya belajar berdiri tegak. Dari menumpang menulis bersama, saya bisa menulis mandiri. Dari rasa ragu, saya bertumbuh memiliki rasa percaya.

Penulis Berkunjung ke Lapak Literasi BBPMP Sulsel. Foto: Dokumen Pribadi
Dan malam itu, di lapak literasi yang sederhana, saya dipulangkan pada kebanggaan yang sejati. Ada pembaca yang tersentuh. Ada orang yang menghargai. Ada mata yang berkilat penuh hormat ketika membuka buku saya. Semua jerih payah, keraguan, bahkan sebutan paccarita itu runtuh begitu saja. Saya sadar, seorang penulis memang dituntut memiliki ketekunan, keberanian, dan kebeningan hati. Menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menjaga kejujuran diri, kesabaran jiwa, dan kerendahan hati untuk terus belajar.

Menikmati Kopi dan Pisang Goreng Gratis di Lapak Literasi BBPMP Sulsel. Foto: Dokumen Pribadi
Membaca tulisan dalam buku menghadirkan manfaat yang sulit diukur dengan angka. Ia bisa memberi hiburan, bisa menjadi sahabat sepi, bisa menuntun jalan bagi yang tersesat. Buku menghadirkan dialog yang sunyi tapi abadi. Saat seseorang membaca, ia tidak hanya berhadapan dengan kata, tapi juga dengan pikiran, perasaan, bahkan doa penulisnya. Saya merasakan malam itu, ketika Ibu Jun memegang buku saya, dan ketika mahasiswa lain membolak-balik halaman-halaman karya teman-teman RVL.
Malam itu, saya menyadari perjalanan saya tidak sia-sia. Saya bukan hanya paccarita yang suka bertutur. Saya kini seorang penulis dengan lebih dari 60 judul buku yang telah lahir. Setiap buku adalah saksi ketekunan, setiap kata adalah jejak keberanian, setiap halaman adalah doa yang terjawab. Kebanggaan itu tidak saya klaim sendiri, melainkan dipulangkan kembali oleh pembaca. Seperti Ibu Jun malam itu, yang dengan senyum, kilatan matanya serta tautan tangannya yang membentuk hati membuat saya merasa: perjalanan panjang ini memang layak ditempuh.
Kunjungan ke lapak literasi ini bukan sekadar kunjungan. Ia adalah perayaan kecil, peneguhan besar, bahwa menulis adalah jalan hidup saya. Jalan yang penuh ragu, tapi akhirnya membuahkan cahaya. Jalan yang membuat saya percaya, saya tidak hanya paccarita, tapi penulis, seorang yang bertugas menjaga kata agar tetap hidup.
Makassar, 27 September 2025

September 29, 2025 at 5:54 am
Ngainun Naim
Saya bisa membayangkan bagaimana suasana ketika Bu Telly hadir. Ada harapan, kebahagiaan, dan juga semangat bahwa menulis bukan sebatas keinginan tetapi kenyataan. Tentu, spirit semacam ini penting untuk bukan sekadar diceritakan, tetapi juga diteladani. Bukan hal mudah, tetapi mungkin asal diperjuangkan.
September 28, 2025 at 10:59 am
Brendan1313
https://shorturl.fm/CKIg8