Lapak Literasi di Bawah Fly Over

Lapak Literasi di Bawah Fly Over
Oleh: Telly D.
Sabtu malam di jalan layang Andi Pangerang Pettarani, Makassar, selalu saja dipenuhi dengan suara yang hingar-bingar. Deru kendaraan yang tak henti-hentinya melintas di atas kepala, klakson yang sesekali meraung, derap langkah para pejalan kaki yang terburu-buru, berpadu menjadi musik kota yang tak pernah berhenti. Namun, di tengah kebisingan itu, di bawah jalan layang itu, hadir satu ruang yang lain: sebuah pojok baca, lapak literasi yang berlogo BBPMP Sulawesi Selatan, memberi keteduhan dan jeda di antara hiruk pikuk malam.
Kunjungan saya kesana setelah membaca informasi di grup Perpustakaan. Saya menyaksikan mahasiswa, anak muda yang malam Minggunya biasanya dihabiskan dengan jalan-jalan, mampir sebentar ke lapak itu. Ada yang membuka buku perlahan, ada yang tersenyum membaca cerpen, ada pula yang sekadar duduk menikmati suasana. Tempat ini seperti magnet yang menarik siapa saja yang haus akan cerita, wacana, atau sekadar ingin mengistirahatkan diri dari layar gawai. Membaca di tengah riuh lalu lintas menghadirkan kontras yang indah: di atas bising dan bergegas, di bawah tenang dan penuh jeda.
Manfaat dari kegiatan ini sungguh nyata. Buku yang biasanya terkurung di dalam gedung perpustakaan, kini hadir mendekati pembacanya. Orang-orang yang mungkin merasa jauh dari bacaan, tiba-tiba menemukan buku yang dapat disentuh dan dibaca. Literasi yang sering terasa formal dan kaku, di sini menjelma hangat, bersahabat, dan sederhana. Mahasiswa yang sekadar lewat, berubah menjadi pembaca. Anak muda yang ingin nongkrong, justru pulang dengan membawa ide dan inspirasi baru dari halaman buku yang dibacanya.

Penulis dan Penggagas Pojok Baca Lapak Literasi. Foto: Dokumen Pribadi
Lebih dari itu, saya merasa hormat dan kagum pada sosok kepala perpustakaan yang punya sapaan Pak Ardi, memelopori gerakan ini. Ia datang dengan gagasan sederhana tapi berani: mengubah ruang yang tadinya hanya jadi tempat bersantai anak muda, bahkan dikenal sebagai titik temu bagi pasangan yang berjanji, menjadi arena literasi. Bukan dengan teori rumit, tapi dengan langkah nyata: membawa buku-buku keluar dari rak, menaruhnya di lapak sederhana, dan menjemput pembaca di jalanan. Ia tidak sendiri. Ada dukungan penuh dari istri dan anak-anaknya. Satu keluarga yang berpikir dengan satu hati: bagaimana caranya menyalakan cahaya literasi dengan cara-cara tak terpikirkan oleh kebanyakan orang.
Saya menyaksikan bagaimana perubahan itu nyata. Di bawah fly over, kursi-kursi kecil ditata. Buku berjajar rapi pada meja di atas trotoar yang dialas plastik sederhana. Kehadiran lapak ini menjungkirbalikkan persepsi: bahwa literasi tidak harus mewah, tidak harus formal, bahkan bisa hadir di ruang yang sebelumnya hanya dianggap pinggiran. Malam yang biasanya berisi riuh senda gurau, kini ditingkahi suara halaman yang dibalik.

Pojok Baca Lapak Literasi Di Fly Over. Foto: Dokumen Pribadi
Semakin malam, pengunjung kian ramai. Rupanya ada rahasia kecil yang membuat lapak ini begitu hidup: kopi hangat dan pisang goreng gratis disediakan bagi siapa pun yang datang. Aroma kopi yang mengepul menambah daya tarik, membuat mahasiswa betah berlama-lama. Pisang goreng yang renyah menjadi teman setia di sela-sela bacaan. Suasana pun berubah menjadi ruang nongkrong yang sehat: ngopi sambil membaca, bercakap sambil bertukar ide, tertawa di antara paragraf yang baru selesai dibaca. Lapak literasi ini bukan sekadar tempat membaca, melainkan ruang perjumpaan sosial yang membangun, yang menyalakan percakapan tentang hidup, ilmu, dan masa depan.

Perahu Perpustakaan dan Beberapa Buku dari RVL Ikut Dipajang di Pojok Baca Lapak Literasi. Foto: Dokumen Pribadi
Kunjungan saya malam itu penuh rasa takjub. Saya tidak sekadar melihat buku-buku yang terbuka, tetapi melihat dedikasi sebuah keluarga yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan demi gerakan literasi. Saya lebih terharu lagi ketika mengetahui bahwa inisiatif ini tidak hanya dilakukan di Makassar, tetapi juga di kampung halaman mereka, di Kabupaten Pangkep. Artinya, gerakan ini bukan sekadar program sesaat, melainkan panggilan jiwa. Ada keberlanjutan, ada niat suci untuk menyalakan obor literasi di mana pun mereka berpijak.
Betapa bahagianya saya ketika melihat salah satu buku yang saya tulis, Perahu Perpustakaan, ikut hadir di lapak itu. Buku yang lahir dari pergulatan ide dan pengalaman, kini terbaca oleh mahasiswa dan penjual nasi gerobak yang mungkin baru pertama kali mendengarnya. Lebih dari itu, saya melihat pula beberapa buku yang lahir dari Rumah Virus Literasi (RVL) komunitas tempat saya belajar menulis ikut mengisi lapak literasi ini. Rasanya seperti melihat jejak kecil yang ikut mengalir dalam arus besar gerakan ini. Ada rasa syukur sekaligus kebanggaan tersendiri: bahwa tulisan, sekecil apa pun, bisa bertemu dengan pembaca di ruang yang tak terduga.
Dalam Perahu Perpustakaan, saya pernah menulis: “Membawa buku bukan hanya mengangkut kertas dan huruf, melainkan menyalakan cahaya di hati yang haus akan makna.” Kalimat itu saya rasakan kembali di lapak literasi ini. Di bawah bising kendaraan, cahaya itu tetap menyala, bahkan mungkin lebih terang karena lahir dari ruang yang sederhana.
Lapak literasi di bawah fly over Pettarani ini telah membuktikan bahwa literasi tidak mengenal batas. Ia bisa tumbuh di gedung megah, tapi juga bisa mekar di ruang sederhana. Ia bisa hidup di kelas, tapi juga bisa menyala di jalanan. Dan yang paling penting: ia tumbuh ketika ada keberanian, cinta, dan dedikasi.
Saya ingin menutup kesan ini dengan satu harapan. Kegiatan ini sudah selayaknya diberi dukungan yang memadai, baik oleh lembaga, pemerintah, maupun masyarakat luas. Apalagi karena lapak ini membawa nama besar sebuah lembaga yang seharusnya menjadi pionir gerakan literasi. Jangan biarkan inisiatif yang lahir dari satu keluarga penuh semangat ini berjalan sendiri. Mari kita jaga, kita kembangkan, agar ke depan lapak literasi bisa hadir di banyak tempat, menyalakan lebih banyak cahaya, dan menemani lebih banyak pembaca dalam perjalanan mereka mencari ilmu.
Makassar, 27 September 2025

Leave a Reply