DI BALIK CAHAYA, ADA YANG TETAP GELAP

Pentigraf
DI BALIK CAHAYA, ADA YANG TETAP GELAP
Oleh: Telly D.
Perayaan Dies Natalis tahun ini lebih mewah dari sebelumnya. Panggung berlapis lampu digital, tamu-tamu penting berdatangan dengan jas dan senyum protokoler, dan plakat-plakat penghargaan disusun rapi di atas meja kaca. Di layar LED, muncul video perjalanan kampus: laboratorium baru, kerja sama internasional, dan kutipan manis dari para pejabat. Tapi di luar aula, berita korupsi dana proyek pendidikan menyebar seperti udara panas di musim kemarau diam-diam menyelinap, lalu menyesakkan.
Reno dan Tenri tidak ikut menonton. Mereka memilih duduk di tangga belakang gedung rektorat, tempat dulu mereka menulis tugas akhir bersama. Di sana mereka membicarakan nilai. Bukan IPK, bukan ranking, tapi nilai yang tumbuh dalam keputusan-keputusan kecil: menolak menyontek, mengembalikan uang lebih, dan berkata jujur meski membuat malu. Mereka tahu, tidak semua korupsi soal uang ada korupsi makna, korupsi janji, dan korupsi kata-kata dalam pidato.
Malam itu, di bawah cahaya kembang api Dies Natalis yang mengguncang langit Makassar, Tenri menggenggam tangan Reno erat, dan dengan suara hampir tak terdengar ia berbisik: “Kalau kampus lupa pada integritas, semoga kita tetap mengingatnya, walau cuma berdua.”
Makassar, Agustus 2025

Leave a Reply