Baal di Zaman Kita

Baal di Zaman Kita
Oleh: Telly D.
Tidak ada patung yang kita sembah hari ini. Tidak ada altar yang kita datangi dengan membawa sesaji. Tidak ada dupa yang kita nyalakan untuk memohon hujan atau panen. Kita hidup di zaman yang merasa telah meninggalkan berhala.
Namun, setiap pagi jutaan orang bangun dengan satu kecemasan yang sama: takut tertinggal, takut kalah, takut tidak diakui. Kita mengejar angka, posisi, pujian, dan citra, seolah hidup bergantung padanya. Tanpa sadar, kita sedang bersujud, bukan pada batu, melainkan pada ambisi
Dalam sejarah dan kitab-kitab suci, Baal dikenal sebagai dewa kuno yang disembah oleh bangsa Kanaan. Ia dipuja sebagai penguasa hujan, kesuburan, dan kekuatan alam. Namun dalam tradisi para nabi, Baal menjadi simbol penyimpangan: manusia yang meninggalkan Tuhan demi berhala. Seiring waktu, nama Baal tidak lagi sekadar merujuk pada patung batu, tetapi pada segala sesuatu yang menggantikan nilai kebenaran dalam hidup manusia.
Kita sering mengira Baal telah lama mati. Ia terkubur bersama reruntuhan kuil-kuil tua, patah bersama patung-patung yang runtuh oleh zaman. Kita membayangkan Baal hanya hidup dalam cerita masa lalu. Kita merasa aman, karena hari ini kita tidak lagi bersujud pada benda mati.
Padahal, barangkali Baal tidak pernah pergi. Ia hanya berganti rupa.
Di abad ini, Baal tidak lagi berdiri di altar. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus: ambisi tanpa batas, hasrat akan pengakuan, ketergantungan pada popularitas, dan pemujaan pada materi. Kita tidak menyebutnya dewa. Kita menyebutnya kesuksesan, pencapaian, koneksi, citra, dan pengaruh.
Setiap hari, kita menyaksikan bagaimana manusia rela mengorbankan banyak hal demi itu semua. Waktu bersama keluarga ditukar dengan lembur tanpa henti. Kejujuran digadaikan demi jabatan. Empati dikesampingkan demi nama besar. Dalam kasus-kasus tertentu, bahkan martabat orang lain dijadikan alat untuk memuaskan nafsu dan kekuasaan.
Tidak ada asap dupa. Tidak ada darah di altar. Tetapi ada luka yang diam-diam diwariskan.
Bukankah ini juga bentuk persembahan?
Kita hidup dalam dunia yang mengajarkan bahwa hidup adalah perlombaan. Siapa cepat, dia menang. Siapa kuat, dia bertahan. Siapa lemah, tersingkir. Dalam logika ini, nurani menjadi beban. Kesederhanaan dianggap kegagalan. Kejujuran dipandang sebagai ketertinggalan.
Di sinilah Baal modern bekerja. Ia tidak memaksa. Ia membujuk.
Ia berbisik, “Sedikit saja melanggar, demi masa depan.”
“Sekali ini saja, nanti bisa diperbaiki.”
“Semua orang juga begitu.”
Dan kita mengangguk, tanpa merasa sedang terseret.
Ironisnya, kita tetap merasa religius. Kita berdoa. Kita berbicara tentang moral. Kita mengutip ayat dan petuah. Tetapi dalam keputusan-keputusan kecil, kita lebih sering memilih yang menguntungkan daripada yang benar. Kita memilih aman daripada adil. Nyaman daripada jujur.
Baal tidak membutuhkan kuil. Ia cukup tinggal di ruang batin yang kosong dari makna.
Ia tumbuh ketika hidup hanya diukur dari angka. Ketika nilai manusia ditentukan oleh jumlah pengikut. Ketika keberhasilan dipisahkan dari kebermanfaatan. Ketika anak-anak diajari mengejar prestasi tanpa karakter, kepandaian tanpa empati, kecepatan tanpa kebijaksanaan.
Lalu kita heran: mengapa dunia terasa semakin dingin?
Mungkin karena terlalu banyak hati yang disewakan pada berhala modern.
Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa Baal selalu kalah, bukan oleh pedang, melainkan oleh kesadaran. Para nabi tidak menghancurkannya hanya dengan kekuatan, tetapi dengan membangunkan nurani manusia.
Begitu pula hari ini.
Setiap kali seseorang memilih jujur meski rugi, satu altar runtuh.
Setiap kali seseorang menolong tanpa pamrih, satu patung retak.
Setiap kali seseorang berkata “cukup” pada keserakahan, satu rantai putus.
Melawan Baal zaman ini bukan dengan teriakan, bukan dengan kebencian, melainkan dengan kewaspadaan batin.
Dengan terus bertanya pada diri sendiri:
Untuk apa aku hidup?
Siapa yang aku korbankan dalam perjalananku?
Masihkah nuraniku menjadi penunjuk arah?
Sebab mungkin, perjuangan terbesar manusia modern bukan melawan musuh di luar dirinya, melainkan berhala yang tumbuh diam-diam di dalam dada.
Mungkin, Baal zaman ini tidak akan pernah runtuh dengan suara gemuruh. Ia tidak akan tumbang oleh amarah atau demonstrasi. Ia hanya bisa dikalahkan oleh manusia yang berani hidup dengan kesadaran.
Manusia yang tetap jujur saat dusta lebih menguntungkan.
Yang tetap sederhana saat pamer lebih dipuji.
Yang tetap peduli saat acuh lebih aman.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya seberapa tinggi kita naik, tetapi seberapa banyak yang kita selamatkan dalam perjalanan. Tidak akan menghitung berapa harta yang kita kumpulkan, tetapi berapa nurani yang tetap kita jaga.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi, keberanian terbesar kita adalah ini: tetap menjadi manusia, ketika menjadi “dewa kecil” terasa jauh lebih mudah.
Makaassar, Februari 2026

February 8, 2026 at 10:30 am
Esther4451
Promote our brand, reap the rewards—apply to our affiliate program today!