SELAMAT HARI NATAL

Pentigraf
SELAMAT HARI NATAL
OLeh: Telly D.
Salju tak pernah turun di kota kecil itu, namun malam Natal membuat udara terasa lebih sunyi. Daniel berdiri di depan toko roti yang tutup lebih awal, menggenggam kunci yang sebentar lagi tak berguna. Esok hari, toko warisan ayahnya resmi dijual; utang telah mengalahkan kenangan.
Rasa gundah berputar pelan di dada; antara bertahan atau merelakan. Di gereja, ia duduk tanpa menyanyi, membiarkan lagu-lagu mengalir melewati dirinya. Doanya pendek dan nyaris putus asa meminta tanda, atau sekadar kekuatan untuk menerima kehilangan yang terasa tak adil.
Saat lonceng terakhir berdentang, pastor memanggil namanya. Jemaat berdiri, menyerahkan sebuah kotak kayu berisi kuitansi lunas. Anak-anak kampung telah mengumpulkan koin, pelanggan lama menyumbang diam-diam. “Toko itu milikmu,” kata pastor. Daniel tersenyum, hangat menjalar. Malam itu, Natal datang bukan sebagai mukjizat besar, melainkan sebagai kasih yang pulang bersama-sama.
Makassar, 25 Desember 2025

Leave a Reply