KURUSETRA YANG TERSEMBUNYI

Pentigraf
KURUSETRA YANG TERSEMBUNYI
Oleh: Telly D.
Malam menua di depan layar komputer Raka. Angka-angka berderet seperti pasukan menunggu aba-aba, dan di antara barisan itu bersembunyi kebohongan kecil yang minta disamarkan. Ia teringat kisah Mahabharata yang dulu dibacakan kakeknya tentang Kurawa yang menipu demi kuasa, dan Pandawa yang berperang demi cahaya kebenaran. “Kurusetra tak pernah hilang,” kata sang kakek, “ia hanya berganti tempat.” Kini Raka tahu, padang perang itu telah berpindah ke dalam dirinya.
Pagi berikutnya, bosnya meminta revisi laporan sekadar ubahan kecil agar tampak manis di mata yang lebih tinggi. Hening menyelimuti ruangan, seperti jeda sebelum perang dimulai. Raka menatap layar, menimbang kata, menghitung peluang. Di balik wajah datarnya, dua suara bertarung: yang satu memanggil dengan janji aman, yang lain berbisik tentang harga diri yang tak dapat dibeli.
Sore menjelang, laporan itu terkirim. Tak ada yang tahu apa yang ia pilih, hanya diam panjang menggantung di antara meja-meja kerja. Namun saat ia melangkah keluar kantor, angin sore menyentuh dadanya seperti doa yang dikabulkan. Dalam sunyi itu ia tahu ia telah menulis kebenaran. Debu perang di hatinya mereda, dan Kurusetra yang tersembunyi akhirnya menemui terang.
Makassar, 8 November 2025

November 8, 2025 at 9:43 pm
Sumintarsih
Namun sayangnya, tidak semua orang merasa ada pertarungan di dalam dadanya.
Cerita yang sangat menarik, Bunda…..