Kitab yang Menemaniku

Kitab yang Menemaniku
Oleh: Telly D.*)
Setiap kali aku melangkah keluar rumah dan merapikan isi tote bag kesayanganku, ada satu benda yang tak pernah absen: “Kitab Kehidupan.” Buku itu tidak lagi sekadar kubawa, ia seperti sudah menetap di sana, menjadi bagian yang tak terpisahkan. Tanganku akan otomatis meraihnya setiap kali aku memulai aktivitas: saat duduk di kereta, saat menunggu pesawat, saat berada di dalam kabin yang sunyi, bahkan di sela-sela jeda ketika aku menyelam, mengunjungi masjid, atau menyusuri pusat-pusat wisata dan kuliner. Teman-temanku sudah hafal benar kebiasaanku itu. Mereka tahu, ke mana pun aku berjalan, buku itu pasti ikut serta.
Namun, yang mereka lihat hanyalah kebiasaan. Yang mereka tidak tahu adalah alasan di baliknya, sebuah ikatan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika.
Aku tidak pernah benar-benar mudah menceritakan bagian ini. Ada luka yang tidak pernah selesai hanya dengan diceritakan. Saat anakku pergi, hidupku seperti terhenti di satu titik yang tak ingin kulewati. Aku berjalan, tetapi tidak benar-benar hidup. Hari-hari terasa panjang dan hampa, seperti ruang yang kehilangan gema.
Di masa itulah aku dipertemukan dengan penulis “Kitab Kehidupan” ini. Ia tidak datang dengan banyak kata. Ia tidak menawarkan solusi yang cepat. Ia hanya hadir, diam, namun terasa dekat. Lalu ia mengajakku menulis.
Awalnya aku ragu. Bagaimana mungkin aku menulis ketika hatiku sendiri terasa pecah? Tetapi ia tidak menuntut tulisan yang indah. Ia hanya memintaku jujur. Maka aku menulis dengan tangan gemetar, dengan kalimat yang sering kali terputus, dengan air mata yang jatuh lebih dulu sebelum kata selesai terbentuk.
Ia seperti memegang tanganku. Tidak menarikku keluar dari kesedihan, tetapi berjalan bersamaku melewatinya.
Hari demi hari, aku mulai mengurai apa yang semula terasa tak terurai. Aku menulis rindu, kehilangan, sunyi yang panjang, dan percakapan yang hanya bisa kupahami sendiri. Perlahan, aku tidak lagi tenggelam. Kesedihan itu tetap ada, tetapi ia tidak lagi menguasai. Aku mulai mengenalnya, bahkan menerimanya sebagai bagian dari diriku.
Tanpa kusadari, langkah kecil itu membawa aku jauh. Tulisan demi tulisan lahir, hingga akhirnya aku menulis lebih dari enam puluh lima buku. Setiap tulisan adalah jejak tentang bagaimana aku pernah jatuh, dan bagaimana aku memilih untuk tetap berjalan.
Maka kini, ketika “Kitab Kehidupan” itu selalu ada di dalam tote bagku, itu bukan sekadar kebiasaan yang berulang. Ia adalah pengingat. Setiap kali aku mengeluarkannya di kereta, di pesawat, di masjid, di tengah keramaian wisata atau di sudut tempat makan yang sederhana, aku seperti sedang menyapa kembali perjalanan panjangku sendiri.
Aku tidak selalu membacanya. Kadang aku hanya menggenggamnya. Kadang hanya meletakkannya di dekatku. Tetapi kehadirannya cukup. Ia membuatku merasa tidak sendiri.
Teman-temanku hanya melihat seorang perempuan yang selalu membawa buku itu ke mana-mana. Tetapi bagiku, ini lebih dari itu. Ini adalah cara aku tetap terhubung dengan diriku yang dulu yang pernah hampir menyerah, namun memilih bertahan.
Dan selama aku masih melangkah, buku itu akan tetap tinggal di dalam tote bagku, siap untuk selalu kuambil, kapan pun aku membutuhkan.
Karena yang kubawa itu bukan sekadar buku. Melainkan jejak tangan yang pernah menggenggamku erat, yang mengajarkanku berjalan kembali dan sampai hari ini, masih setia menemaniku melangkah.
Makassar, April 2026
Telly D.*), nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M. Pd., seorang pegiat literasi, penasihat komunitas menulis RVL, pemerhati pendidikan, penasihat IGMP Matematika. pelukis, dan penulis lebih 65 judul buku, buku terakhir Tinta yang Bersujud (2026).

Leave a Reply