Aku, Kitab yang Dibawa Mengitari Hidup

Aku, Kitab yang Dibawa Mengitari Hidup
Oleh: Telly D.*)
Aku tinggal di dalam sebuah tote bag ruang sederhana yang selalu bergerak, ruang kecil yang membawaku ke begitu banyak tempat. Dari sanalah aku mengelilingi kehidupan pemilikku: menyeberangi pulau-pulau di Indonesia, dari Sumatera ke Jawa, dari Papua ke provinsi-provinsi lain yang tak terhitung. Aku ikut ke Banda Naira, dan Labuan Bajo, menatap laut biru yang luas. Aku dibawa ke Banda Aceh, dan Lampung ke tanah yang menyimpan begitu banyak cerita. Aku sampai ke Raja Ampat, merasakan dunia yang begitu indah hingga langit seperti bercermin di lautan.
Aku ikut dalam mobil yang melaju panjang di jalanan berdebu, duduk diam di kursi pesawat yang menembus awan, berguncang di kereta, terombang-ambing di atas perahu, bahkan ikut menyelam bersama di lautan. Aku dibawa ke tempat-tempat wisata, ke pusat-pusat kuliner, ke sudut-sudut hiburan, dan juga ke tempat-tempat suci: ke Masjidil Haram, ke Masjid Nabawi, ke tempat-tempat ziarah, ke makam-makam yang sunyi. Aku hadir di antara langkah-langkahnya, di dalam perjalanan lahir maupun batin.
Tubuhku kini telah berubah. Sampulku mulai lusuh, sudut-sudutku mengelupas, beberapa lembar tubuhku koyak karena terlalu sering disentuh. Aku tidak lagi tampak baru. Aku sudah menua. Tetapi setiap kerusakan di tubuhku adalah bukti bahwa aku dicintai. Tidak ada luka di tubuhku yang lahir dari pengabaian; semua berasal dari kebersamaan.
Namun, aku tahu, yang membuatku begitu berharga bukan hanya perjalanan itu. Aku berharga karena di dalam diriku hidup suara seseorang penulis yang telah mengubah arah hidup pemilikku.
Aku masih mengingat saat pertama kali tangan itu membukaku dengan gemetar. Saat itu ia sedang berada dalam gelap yang sangat pekat. Ia baru kehilangan anaknya. Dunia di sekelilingnya masih berjalan, tetapi hidup di dalam dirinya seperti berhenti. Aku bisa merasakan air mata yang jatuh di atas halaman-halamanku. Kata-kata di dalam diriku dibaca dengan mata yang kabur oleh duka.
Dan di situlah penulisku hadir. Bukan hanya melalui kalimat-kalimat yang dituliskannya, tetapi melalui jiwanya yang hidup di dalam setiap halaman. Penulisku seperti menggenggam tangan perempuan yang sedang hancur itu, lalu berkata pelan bahwa ia masih boleh menangis, tetapi jangan berhenti berjalan.
Melalui diriku, penulisku membimbingnya menulis. Ia mengajarinya menuangkan luka menjadi kata, mengubah kepedihan menjadi kalimat, menjadikan air mata sebagai bahasa. Perlahan-lahan, perempuan itu belajar bernapas kembali. Ia mulai menulis kesedihannya, menulis kehilangan anaknya, menulis luka yang semula tak bernama.
Aku menjadi saksi saat luka itu berubah menjadi kekuatan. Dari hari ke hari, tangan yang dulu gemetar itu mulai mantap. Dari satu tulisan lahir tulisan lain. Hingga akhirnya perempuan itu menjadi penulis menulis puluhan buku, melahirkan begitu banyak kata dari rahim dukanya sendiri. Karena itulah aku tak pernah ditinggalkan.
Aku tidak dibawa hanya karena aku sebuah buku. Aku dibawa karena di dalam diriku ada jejak seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya. Penulisku telah menjelma menjadi cahaya dalam perjalanan batinnya, dan aku adalah wadah dari cahaya itu.
Setiap kali ia dari tote bag-nya di kereta, di pesawat, di atas perahu, di restoran, di tempat wisata, di masjid, di tanah suci aku tahu ia sedang menghadirkan kembali sosok penulisku di sisinya. Ia mungkin hanya menggenggamku, mungkin hanya membuka beberapa halaman, tetapi sebenarnya ia sedang mencari kekuatan yang dulu pernah menghidupkannya kembali.
Aku telah menempuh perjalanan yang jauh, tetapi perjalanan terjauhku bukanlah melintasi pulau dan lautan. Perjalanan terjauhku adalah masuk ke dalam hati seseorang yang pernah patah, lalu tinggal di sana sebagai pengingat bahwa ia pernah selamat.
Kini tubuhku lusuh, koyak, dan menua. Namun aku tidak takut rusak. Karena aku tahu, aku telah menjalani hidup yang bermakna. Aku telah menjadi teman perjalanan, saksi air mata, penjaga kenangan, dan jembatan antara seorang murid dengan gurunya.
Dan jika suatu hari tubuhku benar-benar tak kuat lagi, aku tahu aku tak akan hilang. Karena penulisku telah hidup di hati pemilikku. Dan aku, kitab yang lusuh ini, telah menjadi jalan bagi cinta, luka, dan kekuatan itu untuk terus berjalan.
Maka beginilah aku memaknai hidup: bukan tentang berapa lama aku utuh, tetapi tentang betapa dalam aku berarti.
Dan bukankah itu makna terindah dari sebuah kehidupan menjadi lusuh karena dicintai, menjadi rapuh karena menemani, dan tetap berharga karena di dalam diri kita ada jiwa yang menyelamatkan hidup orang lain.
Makassar, April 2026
Telly D.*), nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M. Pd., seorang pegiat literasi, penasihat komunitas menulis RVL, pemerhati pendidikan, penasihat IGMP Matematika. pelukis, dan penulis lebih 65 judul buku, buku terakhir Tinta yang Bersujud (2026).

Leave a Reply