Menanam Akar di Tanah yang Berbeda

Menanam Akar di Tanah yang Berbeda
Refleksi: Telly D.
Di tengah dunia yang semakin tanpa batas, saya sering bertanya pada diri sendiri: apakah cinta pada tanah air ditentukan oleh selembar paspor, atau oleh ingatan yang ditanam sejak kecil? Polemik tentang kewarganegaraan, tentang loyalitas, tentang utang pada negara, sering kali terdengar keras di ruang publik. Namun bagi saya, pertanyaan itu tidak hanya hidup di media sosial atau ruang debat. Ia hidup di ruang keluarga. Ia hidup dalam wajah cucu saya.
Anak saya menikah dengan warga negara asing dan kini menetap di Singapura. Di sana, hukum memberi ruang: ketika berusia delapan belas tahun, seorang anak boleh memilih kewarganegaraannya. Pilihan itu kelak akan berada di tangan cucu saya Nadhira. Bukan di tangan saya. Bukan di tangan negara. Tetapi di tangannya sendiri.
Dan di antara waktu yang berjalan menuju usia itu, saya merasa memiliki tanggung jawab yang tidak tertulis.
Saya tidak bisa menentukan paspornya. Tetapi saya bisa menanamkan akarnya.
Setiap ada kesempatan, saya memulangkan anak dan cucu saya ke Indonesia. Saya ingin tanah ini tidak asing baginya. Saya ingin ia mengenal udara yang lembap, suara azan yang bersahut-sahutan, aroma laut yang asin, dan logat Bugis-Makassar yang hangat. Saya ajarkan beberapa kata sederhana dalam bahasa kami, agar lidahnya akrab dengan bunyi yang pernah membesarkan leluhurnya.
Saya memperkenalkan diri lewat kue-kue tradisional barongko yang lembut, cucur yang manis, aroma ketan dan gula merah yang lengket di jari kecilnya. Saya ingin ia tahu bahwa identitas juga bisa terasa di lidah. Saya membawanya melihat jejak sejarah, menceritakan tentang pelaut-pelaut Bugis yang mengarungi samudra dengan keberanian dan siri’ harga diri yang dijaga lebih tinggi dari ombak. Saya ingin ia tahu bahwa darahnya membawa kisah panjang, bukan sekadar nama belakang.
Hari ini, yang bisa saya lakukan adalah mengisi. Mengisi ingatannya dengan cerita. Mengisi perasaannya dengan pengalaman. Mengisi hatinya dengan kebanggaan yang lembut, bukan kebanggaan yang memaksa.
Saya tidak pernah berkata kepadanya, “Kamu harus memilih Indonesia.” Saya hanya berkata, “Ini juga rumahmu.”
Karena saya percaya, cinta tanah air tidak lahir dari tekanan. Ia tumbuh dari kedekatan. Dari kenangan masa kecil yang hangat. Dari rasa diterima tanpa syarat. Jika suatu hari nanti Nadhira memilih menjadi warga negara Singapura, saya berharap ia tetap berwawasan Indonesia. Tetap mencintai negeri ayahnya. Tetap bangga bahwa separuh jiwanya berasal dari tanah yang kaya sejarah dan budaya.
Bagi saya, menjadi anak Indonesia bukan semata soal kewarganegaraan. Ia tentang mengenal akar. Tentang membawa nilai kesantunan, gotong royong, dan hormat pada orang tua ke mana pun ia pergi. Ia tentang tahu dari mana ia berasal, agar ia tidak kehilangan arah ketika dunia membentang luas di hadapannya.
Dan kelak, ketika ia berdiri di persimpangan pilihannya sendiri, saya berharap ia memilih dengan hati yang penuh, bukan hati yang kosong. Saya berharap, di mana pun ia berpijak, ia tetap membawa Indonesia dalam cara ia berbicara, dalam cara ia menghormati orang lain, dalam cara ia mencintai keluarganya.
Karena pada akhirnya, bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang tinggal di dalam batas geografisnya. Bangsa dibangun oleh anak-anak yang tumbuh dengan akar yang kuat dan sayap yang berani.
Jika suatu hari Nadhira terbang jauh, biarlah ia terbang tinggi. Tetapi semoga ia selalu tahu di mana pun ia mendarat ada tanah yang pernah menanam namanya dengan cinta.
Dan tanah itu bernama Indonesia.
Makassar, Februari 2026

Leave a Reply